Wednesday, December 31, 2008

9002-8002


Hongkong bisa dicapai dengan pesawat dalam hitungan jam, demikian juga Shanghai, Paris, New York… Kutub Utara-pun bisa disambangi manusia. Pesawat ruang angkasa, bahkan mampu meninggalkan Bumi tercinta… Tapi apa yang baru sekelebat, dan kita tak mampu lagi mencapainya? Yup's… waktu yang telah lalu, 2008!. Baru kemarin kita berada di tahun 2008, dan hari ini kita berada di 2009. Namun meski baru kemarin, telah membentang jarak yang jauh sekali, hingga kita tak lagi bisa menemuinya.

Malam taun baru 2009 ketika kutulis ini dari ujung kampung, sepi… tanpa percik kembang api di angkasa, tanpa tiupan terompet yang memekakan telinga, hanya terdengar suara kodok di bibir pematang sawah samping rumah. Sama seperti malam-malam kemarin… namun terasa ada yang berbeda, karena kalender yang tergantung di dinding besok harus berganti dengan kalender baru. Dua belas bulan sudah kalender tersebut menemani malam-malam sunyi, hingga halaman terakhir, bulan Desember yang sudah lusuh. Terima kasih buat kalender 2008 yang sebentar lagi menjadi penghuni karung pemulung, atau menjadi abu di pembakaran sampah.

Meski tulisan senada udah pernah hadir di sini, tapi ketika malam tahun baru seperti ini rasanya ingin sekali merenung-renung lagi tentang perjalanan waktu selama hidup ini. Hari Kamis seminggu yang lalu jelas beda dengan Kamis 2009. Bahkan Rabu kemarin adalah hari terakhir bagi kita untuk menghirup udara tahun 2008. Mungkin teriknya siang sama, atau dinginnya malam sama, namun kita tak kan bisa lagi mengulanginya.

Bagi sebagian orang dengan bertambahnya taun berarti bertambah pula umur kita, namun sebagian yang lain justru beranggapan umur kitalah yang semakin berkurang. Pita 'finish' makin dekat membentang di hadapan kita, bisa jadi tinggal beberapa langkah lagi.

Ketika percikan dan ledakkan kembang api membahana di atas kota, membuat sorak sorai ratusan ribu manusia, maka di belahan dunia yang lain, percikan dan ledakkan itu membuat tangis bayi-bayi tanpa dosa. Membuat mengejang meregang nyawa anak-anak lugu di Palestina. Percikan api dan ledakkan roket-roket Israel lebih terang dari kembang api, jerit tangis dan ratapan anak-anak Palestina lebih keras dari tepuk riuh di jalan-jalan protokol, namun suaranya tak terdengar sampai ke sini. Gegap gempitanya perayaan tahun baru telah menyumbat telinga hati kita, telah membutakan mata hati kita, telah menutup hidung bau wangi darah mujahid Palestina.

Beberapa tahun yang lalu seorang sahabat meninggal ketika umurnya belum lagi genap 23 tahun, tepat di malam tahun baru. Ketika kami menjemput jenazahnya dari rumah sakit, melewati jalan-jalan protokol menyibak kerumunan orang-orang yang merayakan malam gembira bagi mereka. Terompet tak henti-hentinya ditiupkan, bahkan ke arah jendela mobil jenazah yang membawa sahabat kami. Bagi mereka seolah hidup masih teramat panjang. Tapi tidak bagi kami. Tiupan terompet tahun baru, terdengar layaknya tiupan terompet sangkakala malaikat maut yang bisa hadir sewaktu-waktu. Menyodok kesadaran nurani, bahwa hidup pasti akan berakhir. Untuk menuju long journey di alam yang tak ada lagi pemandu, tak ada lagi penerang, selain amal baik dan keikhlasan kita dalam beramal ibadah. Ironisnya, untuk sebuah perayaan yang hanya sesaat dan tak bermanfaat, sudah direncanakan setengah tahun yang lalu. Namun untuk sebuah perjalanan panjang menuju kebadian…. Apa yang sudah kita persiapkan?

Labels: ,

2 Comments:

Blogger sunardi said...

Waktu emang tak bisa dibeli.

Ha... betul betul betul...

5:26 PM  
Blogger ARISTIONO NUGROHO said...

Terimakasih informasinya.
Sekarang sudah tahun 2009.
Mari giatkan kembali blog Anda, kami menunggu...
Untuk berbagi informasi silahkan mampir ke "Sosiologi Dakwah" di http://sosiologidakwah.blogspot.com

6:43 AM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home