Tuesday, April 08, 2008

striptease & geisha


Jepang adalah salah satu negara modern yang tidak meninggalkan akar budayanya. Meski memiliki masa lalu yang tak begitu sedap namun berangkat dari situlah lahir peradaban. Film "Memories of a Geisha" adalah catatan sejarah yang menjadi saksi tentang peradaban pada jamannya. Penggambaran riil perjalanan nasib anak manusia yang ikhlas menjalani takdirnya. Meski seorang geisha adalah posisi terhormat, namun ada sisi 'miring'nya karena geisha juga berprofesi sebagai wanita penghibur.

Kepasrahan yang tidak semata-mata tunduk pada garis kehidupan, tapi dilalui dengan pemberontakan batin yang berkepanjangan, sampai pada titik ketidakmampuan untuk menghindar darinya.
Budaya Jepang adalah budaya yang sangat dinamis dan penuh optimistis. Pasca jatuhnya bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki, sebagian besar orang-orang memprediksi butuh waktu beratus-ratus tahun untuk bisa mengembalikan Jepang pada kejayaannya. Namun prediksi tersebut meleset jauh. Dengan semangat untuk bangkit kembali itulah, hanya dalam hitungan puluhan tahun Jepang sudah melaju jauh melampaui negara-negara lain yang tidak terkena bom nuklir. Semangat pantang menyerah inilah yang mendominasi sosok-sosok dalam film Geisha tersebut.Profesi Geisha dalam film ini bukanlah profesi yang dicita-citakan oleh Chiyo sang pemeran utama tapi suatu peksaan hidup agar mengalir mengikuti arus. Seorang ibu yang bersahaja dalam kemiskinannya senantiasa menghibur, mengisi kekosongan hati anak-anaknya dengan pijakan yang kuat tentang pentingnya percaya diri.
Tokoh Satsu, kakak perempuan Chiyo diibaratkan seperti kayu, berakar kuat ke dalam bumi dan menjulang tinggi ke atas langit layaknya puhun Sakura. Tapi ketika pondasi yang ditanamkan pada sosok Chiyo, maka tak lagi bicara tentang kekuatan kayu, melainkan kekuatan air. Air bisa membentuk jalannya sendiri, meski harus melalui kerasnya batu, tak hanya itu, air terjun bahkan bisa membuat lubang di atas batu yang keras, air laut mampu mengikis tegarnya batu karang di pantai. Dengan sifatnya yang cair itu pulalah, air mampu mencari jalan keluar ketika terperangkap dalam situasi yang sulit sekalipun. Air juga mampu beradaptasi mengikuti wadahnya.Emoto dalam bukunya yang sangat terkenal saat ini bahkan telah membukakan mata kita, bahwa air yang selama ini dipahami sebagai benda mati bahkan mampu berkomunikasi, merespon stimulus yang diberikan kepadanya. Dalam teori quantum, air bahkan mampu menangkap gelombang dan mengubahnya menjadi partikel berupa kristal-kristal. Air juga satu-satunya benda cair yang istimewa, karena ketika membeku menjadi benda padat berupa es, justru volumenya menjadi berkurang. Sehingga tak heran jika sebongkah es, akan mengapung di atas air. Tak bisa dibayangkan, jika bongkahan-bongkahan es di kutub Utara dan Selatan bumi ini mencair, maka seluruh permukaan bumi akan terendam.
Kekuatan lain dari air adalah mampu memadamkan ganasnya api, seperti dalam film Geisha, keberadaan Chiyo yang dimetaforkan sebagai air dan bisa dilihat dengan tatapan matanya, diharapkan mampu melindungi Okiya tempat tinggal para geisha dari kobaran api kemurkaan. Chiyo-chan adalah metafor kekuatan air yang ada padanya.
Geisha, sebuah profesi yang berkesan ‘miring’ di masyarakat tapi keberadaannya juga diperlukan. Nilai keprofesionalannya dnilai dari seberapa mahal kimono yang berhasil didapatnya. Kepakarannya ditakar dengan seberapa cepat mampu menundukan laki-laki, meski hanya dengan satu kali tatapan. Sepanjang film ini banyak sekali betebaran metafor-metafor yang menjadi gaya tutur hiperbolis. Menurut Frithjof Schoun, kata metafor dan kalimat hiperbola selalu mengandung emosi yang dipicu oleh persepsi langsung dari si pengarang teks terhadap suasana dan tema spiritual yang sedang dirasakan. Fungsi dari metafora dan hiperbola itu sendiri adalah menandai hubungan yang tepat, namun implisit guna memberi makna bagi teks untuk tujuan yang lebih mengena, sehingga ia bisa menghapus atau menghilangkan absurditas dalam hubungan kata- kata. Metafor dalam film Geisha ini tidak terbatas dalam konteks kata-kata semata, namun juga dalam setting jaman, sosok pemerannya dan lain-lain. Seorang geisha tidak hanya dituntut memiliki daya tarik tersendiri bagi laki-laki, tapi juga harus melewati proses panjang mendalamai tari, keluwesan gerak, serta kerlingan mata. Bahkan keperawanan adalah asset untuk meningkatakn prestise seorang geisha, dimana ‘barang’ tersebut akan dilelangkan dengan harga tertinggi.
Di negeri kita sendiri khususnya di Jawa, tradisi semacam geisha juga sudah ada. Jika kita runut ke belakang, beberapa daerah di Jawa sebenarnya sudah mengenal tradisi tersebut. Adanya Ledek, Tayub juga Ronggeng adalah ‘geisha-geisha’ Indonesia pada jamannya. Ahmad Tohari dalam novelnya “Ronggeng Dukuh Paruk” misalnya, mengishkan tokoh Srithil yang harus melewati berbagai prosesi dan pelatihan untuk bisa mencapai puncaknya sebagai ronggeng yang disegani. Keperawanannya juga diukur dengan seberapa banyak kerbau yang dipakai untuk menebusnya. Ronggeng juga harus piawai dalam menari, memikat laki-laki dan sebagainya. Perbedaannya barangkali hanya pada motivasinya. Srinthil dalam Ronggeng Dukuh paruk memang sejak kecil bercita-cita jadi ronggeng yang terkenal. Sementra Chiyo yang ketika sudah menjadi Geisha berubah nama menjadi Sayuri, hanya mengikuti arus takdir layaknya air.
Keberadaan geisha atau ledhek, tayub, ronggeng, memang ada bahkan di banyak negara. Bahkan sampai saat ini, barangkali masih tetap ada hanya dlam format yang berbeda. Kepiawaian menari seorang geisha atau ronggeng telah bergeser menjadi kehandalan menari erotik dan menyanyi dengan suara yang mengundang birahi. Panggung-panggung tempat pementasan ronggeng maupun geisha telah berubah menjadi remang-remangnya suasana kafe. Dan kesakralan ‘darah perawan’ sudah tidak ada lagi harganya.
Inilah sebingkai lukisan aliran realisme pada jaman ini, sosok-sosok geisha, ronggeng yang dipuja pada jamannya, telah mengalami reinkarnasi menjadi penari-penari striptease yang tidak perlu melewati serangkaian prosesi dan ‘laku’ layaknya seorang ronggeng. Derasnya arus globalisasi telah meluluh-lantakkan metafor-metafor ‘suci’ seorang geisha maupun rongeng. Se’miring-miring’nya geisha, masih mengemban metafor budaya sebagai jati dirinya, yang semakin sulit kita dapati pada jaman sekarang.

(Catatan tugas kuliah, daripada gak update. Semoga bermanfaat)

Labels:

2 Comments:

Blogger Rey said...

Posting yang menarik.
Tp maap, aku gak tertarik dgn budaya jepang (so far...).

3:44 PM  
Anonymous Anonymous said...

Geisha,... buku yang bagus.

8:38 AM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home