Thursday, February 26, 2009

visual hardness


beberap bulan terakhir ini, ada kesamaan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya di Indonesia tercinta. Sejauh mata memandang, tatapan kita akan ‘dipaksa’ untuk memelototi fenomena visual baliho, spanduk, billboard Calon Legislatif (Caleg) dari berbagai parpol. Ada banyak ekspresi yang mencuat di media luar ruang tersebut, seolah mennyatu, melebur menajadi bagian elemen estetis sebuah kota atau bahkan pedesaan sekalipun. Mulai dari ekspresi yang innocent, protagonis, sampai tampang antagonis yang ‘sangar’. Mulai dari caleg anak muda, sampai ‘simbah kakung/putri’. Mulai dari pamer kumis, sampai pamer lipstik. Ada satu kalimat seragam, yang seolah harus ada di setiap media tersebut yaitu “mohon doa rebu dan dukungannya”.

Seandainya saja media-media luar ruang tersebut bisa dikemas lebih santun, entertain, estetis, maka tidak tertutup kemungkinan menambah indahnya tempat dimana dia dipasang. Tapi alih-alih memperindah, justru euforia menjelang pesta demokrasi malah membuat sakit di mata.

Tampang-tampang yang ambisius, dikemas, dipoles, biar terlihat ‘tuan baik hati’, atau ‘malaikat penolong’ yang dengan ‘niat suci’nya mau mengangkat rakyat kita dari derita bangsa yang berkepanjangan. Riya’, ujub, takabur, sombong, umbar janji, bercampur baur dengan ‘i'tikad baik’. Bagi caleg ‘beginer’ yang belum pernah menjabat, duduk di kursi empuk, menjanjikan perubahan dan harapan. Sementara bagi politikus gaek yang sudah merasakan empuknya kursi, mempertahankan posisinya dengan mengungkit dan mengungkap kinerjanya.

Rosulullah Muhammad SAW dalam sebuah hadits-nya pernah menyampaikan yang artinya kurang lebih, barang siapa menyerahkan suatu urusan pada orang yang bukan bidangnya… maka tinggal menunggu kehancurannya. Dewasa ini dengan makin banyaknya Parpol saja sudah bikin pusing, apalagi ditambah banyaknya caleg. Rakyat makin bingung, dan para ‘pengrajin partai’ (daripada nganggur), makin congkak. Politisi ‘karbitan’ makin merebak, dengan modal popularitas, kekayaan, status sosial, atau pimpinan organisasi, beramai-ramai mencoba terjun ke lembah perpolitikan. Meskipun tidak memiliki kapabilitas di bidang politik. “Untuk bangsa koq coba-coba!”.

Ada kalimat bijak yang disampaikan seorang sahabat dan ‘guru’ saya; “jangan serahkan jabatan pada orang yang meminta”. Sebagaimana Rosulullah mengangkat orang-orang pilihan, para sahabat, untuk menduduki jabatan gubernur di berbagai daerah, dan berhasil. Para sahabat tdak meminta jabatan tersebut, tapi hasil dari pengamatan, observasi, track record, yang sangat mungkin tidak disadari oleh para sahabat sendiri. Jika jabatan diserahkan pada ‘para pengemis’ yang memintanya, maka kecenderungannya menjadi ‘gumedhe’, merasa dibutuhkan… sehingga setelah menjabat, mau korupsi, mau menindas, dzolim, merasa wajar-wajar saja. Karena dia yang meminta dan rakyat memberikan. Akan beda hasilnya, jika rakyat yang meminta seseorang untuk menduduki jabatan tersebut, meski orang tadi tidak memintanya. Maka perasaan bahwa jabatan adalah amanah yang harus diemban, akan senantiasa memayungi setiap langkah, kebijakan, dan program yang dibuatnya.

Pertanyaannya, masih adakah para calon pemimpin, pejabat, legislatif, yang tidak meminta jabatan ? Jawabannya ada di dalam benak dan pikiran kita masing-masing! Dan kita adalah rakyat yang dengan sukarela menyerahkan sepenuhnya, amanah, jabatan, kepada para ’pengemis’ tersebut.


Labels: ,


Selanjutnya...

Wednesday, December 31, 2008

9002-8002


Hongkong bisa dicapai dengan pesawat dalam hitungan jam, demikian juga Shanghai, Paris, New York… Kutub Utara-pun bisa disambangi manusia. Pesawat ruang angkasa, bahkan mampu meninggalkan Bumi tercinta… Tapi apa yang baru sekelebat, dan kita tak mampu lagi mencapainya? Yup's… waktu yang telah lalu, 2008!. Baru kemarin kita berada di tahun 2008, dan hari ini kita berada di 2009. Namun meski baru kemarin, telah membentang jarak yang jauh sekali, hingga kita tak lagi bisa menemuinya.

Malam taun baru 2009 ketika kutulis ini dari ujung kampung, sepi… tanpa percik kembang api di angkasa, tanpa tiupan terompet yang memekakan telinga, hanya terdengar suara kodok di bibir pematang sawah samping rumah. Sama seperti malam-malam kemarin… namun terasa ada yang berbeda, karena kalender yang tergantung di dinding besok harus berganti dengan kalender baru. Dua belas bulan sudah kalender tersebut menemani malam-malam sunyi, hingga halaman terakhir, bulan Desember yang sudah lusuh. Terima kasih buat kalender 2008 yang sebentar lagi menjadi penghuni karung pemulung, atau menjadi abu di pembakaran sampah.

Meski tulisan senada udah pernah hadir di sini, tapi ketika malam tahun baru seperti ini rasanya ingin sekali merenung-renung lagi tentang perjalanan waktu selama hidup ini. Hari Kamis seminggu yang lalu jelas beda dengan Kamis 2009. Bahkan Rabu kemarin adalah hari terakhir bagi kita untuk menghirup udara tahun 2008. Mungkin teriknya siang sama, atau dinginnya malam sama, namun kita tak kan bisa lagi mengulanginya.

Bagi sebagian orang dengan bertambahnya taun berarti bertambah pula umur kita, namun sebagian yang lain justru beranggapan umur kitalah yang semakin berkurang. Pita 'finish' makin dekat membentang di hadapan kita, bisa jadi tinggal beberapa langkah lagi.

Ketika percikan dan ledakkan kembang api membahana di atas kota, membuat sorak sorai ratusan ribu manusia, maka di belahan dunia yang lain, percikan dan ledakkan itu membuat tangis bayi-bayi tanpa dosa. Membuat mengejang meregang nyawa anak-anak lugu di Palestina. Percikan api dan ledakkan roket-roket Israel lebih terang dari kembang api, jerit tangis dan ratapan anak-anak Palestina lebih keras dari tepuk riuh di jalan-jalan protokol, namun suaranya tak terdengar sampai ke sini. Gegap gempitanya perayaan tahun baru telah menyumbat telinga hati kita, telah membutakan mata hati kita, telah menutup hidung bau wangi darah mujahid Palestina.

Beberapa tahun yang lalu seorang sahabat meninggal ketika umurnya belum lagi genap 23 tahun, tepat di malam tahun baru. Ketika kami menjemput jenazahnya dari rumah sakit, melewati jalan-jalan protokol menyibak kerumunan orang-orang yang merayakan malam gembira bagi mereka. Terompet tak henti-hentinya ditiupkan, bahkan ke arah jendela mobil jenazah yang membawa sahabat kami. Bagi mereka seolah hidup masih teramat panjang. Tapi tidak bagi kami. Tiupan terompet tahun baru, terdengar layaknya tiupan terompet sangkakala malaikat maut yang bisa hadir sewaktu-waktu. Menyodok kesadaran nurani, bahwa hidup pasti akan berakhir. Untuk menuju long journey di alam yang tak ada lagi pemandu, tak ada lagi penerang, selain amal baik dan keikhlasan kita dalam beramal ibadah. Ironisnya, untuk sebuah perayaan yang hanya sesaat dan tak bermanfaat, sudah direncanakan setengah tahun yang lalu. Namun untuk sebuah perjalanan panjang menuju kebadian…. Apa yang sudah kita persiapkan?

Labels: ,


Selanjutnya...

Sunday, November 16, 2008

aesthetic


dengan agama, hidup menjadi terarah
dengan ilmu, hidup menjadi mudah
dengan seni, hidup menjadi indah

Ada bahasa yang universal, artinya bisa dimengerti buat semua manusia… yaitu ‘keindahan’. Hampir semua manusia, menyukai yang namanya keindahan atau estetis. Meskipun keindahan dalam wilayah seni adalah mutlak, namun demikian keindahan bukanlah segala-galanya. Jika seni bisa membuat hidup ini menjadi terasa indah, cerah-ceria, warna-warni, maka itu hanya sebuah variasi hidup. Bukan tujuan!.

RUUP barusan disahkan meki tetap mengundang pro-kontra. Para pemuja ‘keindahan’ yang tidak setuju dengan UU tersebut berdalih bisa membatasi kebebasan seni. Tubuh manusia adalah indah (dalam kacamata mereka) sehingga layak diungkapkan sebagai bahasa yang universal.

Tapi begitu menempatkan keindahan pada level pertama dan ’arah’ kehidupan pada level berikutnya, maka bisa ditebak... sesatlah adanya. Agama adalah penentu arah tujuan, dan ilmu yang memudahkan jalan menujunya. Begitu banyak para pemuja ’keindahan’ yang akhirnya terperosok dalam lembah kehinaan, karena tersesat dan tak punya arah tujuan.

Demikian juga betapa banyak para cerdik-cendekia, orang-orang yang kualitas keilmuannya tidak diragukan lagi, tapi justru menjadi trouble maker, koruptor, dan sebagainya. Hal tersebut bisa terjadi karena menempatkan ilmu sebagai ’imam’ dalam hidupnya, dan menempatkan agama sebagai ’makmum’.

Jika kita mampu menyinergikan tiga hal tersebut di atas, dan menempatkan masing-masing potensi pada posisi yang tepat, betapa terarah, mudah dan indahnya menjalani kehidupan ini. Masing-masing bisa overlapping, tumpang tindih, saling memengaruhi, namun tetap dalam koridor agama sebagai navigator kehidupan. Semoga.


Labels:


Selanjutnya...

Tuesday, April 08, 2008

striptease & geisha


Jepang adalah salah satu negara modern yang tidak meninggalkan akar budayanya. Meski memiliki masa lalu yang tak begitu sedap namun berangkat dari situlah lahir peradaban. Film "Memories of a Geisha" adalah catatan sejarah yang menjadi saksi tentang peradaban pada jamannya. Penggambaran riil perjalanan nasib anak manusia yang ikhlas menjalani takdirnya. Meski seorang geisha adalah posisi terhormat, namun ada sisi 'miring'nya karena geisha juga berprofesi sebagai wanita penghibur.

Kepasrahan yang tidak semata-mata tunduk pada garis kehidupan, tapi dilalui dengan pemberontakan batin yang berkepanjangan, sampai pada titik ketidakmampuan untuk menghindar darinya.
Budaya Jepang adalah budaya yang sangat dinamis dan penuh optimistis. Pasca jatuhnya bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki, sebagian besar orang-orang memprediksi butuh waktu beratus-ratus tahun untuk bisa mengembalikan Jepang pada kejayaannya. Namun prediksi tersebut meleset jauh. Dengan semangat untuk bangkit kembali itulah, hanya dalam hitungan puluhan tahun Jepang sudah melaju jauh melampaui negara-negara lain yang tidak terkena bom nuklir. Semangat pantang menyerah inilah yang mendominasi sosok-sosok dalam film Geisha tersebut.Profesi Geisha dalam film ini bukanlah profesi yang dicita-citakan oleh Chiyo sang pemeran utama tapi suatu peksaan hidup agar mengalir mengikuti arus. Seorang ibu yang bersahaja dalam kemiskinannya senantiasa menghibur, mengisi kekosongan hati anak-anaknya dengan pijakan yang kuat tentang pentingnya percaya diri.
Tokoh Satsu, kakak perempuan Chiyo diibaratkan seperti kayu, berakar kuat ke dalam bumi dan menjulang tinggi ke atas langit layaknya puhun Sakura. Tapi ketika pondasi yang ditanamkan pada sosok Chiyo, maka tak lagi bicara tentang kekuatan kayu, melainkan kekuatan air. Air bisa membentuk jalannya sendiri, meski harus melalui kerasnya batu, tak hanya itu, air terjun bahkan bisa membuat lubang di atas batu yang keras, air laut mampu mengikis tegarnya batu karang di pantai. Dengan sifatnya yang cair itu pulalah, air mampu mencari jalan keluar ketika terperangkap dalam situasi yang sulit sekalipun. Air juga mampu beradaptasi mengikuti wadahnya.Emoto dalam bukunya yang sangat terkenal saat ini bahkan telah membukakan mata kita, bahwa air yang selama ini dipahami sebagai benda mati bahkan mampu berkomunikasi, merespon stimulus yang diberikan kepadanya. Dalam teori quantum, air bahkan mampu menangkap gelombang dan mengubahnya menjadi partikel berupa kristal-kristal. Air juga satu-satunya benda cair yang istimewa, karena ketika membeku menjadi benda padat berupa es, justru volumenya menjadi berkurang. Sehingga tak heran jika sebongkah es, akan mengapung di atas air. Tak bisa dibayangkan, jika bongkahan-bongkahan es di kutub Utara dan Selatan bumi ini mencair, maka seluruh permukaan bumi akan terendam.
Kekuatan lain dari air adalah mampu memadamkan ganasnya api, seperti dalam film Geisha, keberadaan Chiyo yang dimetaforkan sebagai air dan bisa dilihat dengan tatapan matanya, diharapkan mampu melindungi Okiya tempat tinggal para geisha dari kobaran api kemurkaan. Chiyo-chan adalah metafor kekuatan air yang ada padanya.
Geisha, sebuah profesi yang berkesan ‘miring’ di masyarakat tapi keberadaannya juga diperlukan. Nilai keprofesionalannya dnilai dari seberapa mahal kimono yang berhasil didapatnya. Kepakarannya ditakar dengan seberapa cepat mampu menundukan laki-laki, meski hanya dengan satu kali tatapan. Sepanjang film ini banyak sekali betebaran metafor-metafor yang menjadi gaya tutur hiperbolis. Menurut Frithjof Schoun, kata metafor dan kalimat hiperbola selalu mengandung emosi yang dipicu oleh persepsi langsung dari si pengarang teks terhadap suasana dan tema spiritual yang sedang dirasakan. Fungsi dari metafora dan hiperbola itu sendiri adalah menandai hubungan yang tepat, namun implisit guna memberi makna bagi teks untuk tujuan yang lebih mengena, sehingga ia bisa menghapus atau menghilangkan absurditas dalam hubungan kata- kata. Metafor dalam film Geisha ini tidak terbatas dalam konteks kata-kata semata, namun juga dalam setting jaman, sosok pemerannya dan lain-lain. Seorang geisha tidak hanya dituntut memiliki daya tarik tersendiri bagi laki-laki, tapi juga harus melewati proses panjang mendalamai tari, keluwesan gerak, serta kerlingan mata. Bahkan keperawanan adalah asset untuk meningkatakn prestise seorang geisha, dimana ‘barang’ tersebut akan dilelangkan dengan harga tertinggi.
Di negeri kita sendiri khususnya di Jawa, tradisi semacam geisha juga sudah ada. Jika kita runut ke belakang, beberapa daerah di Jawa sebenarnya sudah mengenal tradisi tersebut. Adanya Ledek, Tayub juga Ronggeng adalah ‘geisha-geisha’ Indonesia pada jamannya. Ahmad Tohari dalam novelnya “Ronggeng Dukuh Paruk” misalnya, mengishkan tokoh Srithil yang harus melewati berbagai prosesi dan pelatihan untuk bisa mencapai puncaknya sebagai ronggeng yang disegani. Keperawanannya juga diukur dengan seberapa banyak kerbau yang dipakai untuk menebusnya. Ronggeng juga harus piawai dalam menari, memikat laki-laki dan sebagainya. Perbedaannya barangkali hanya pada motivasinya. Srinthil dalam Ronggeng Dukuh paruk memang sejak kecil bercita-cita jadi ronggeng yang terkenal. Sementra Chiyo yang ketika sudah menjadi Geisha berubah nama menjadi Sayuri, hanya mengikuti arus takdir layaknya air.
Keberadaan geisha atau ledhek, tayub, ronggeng, memang ada bahkan di banyak negara. Bahkan sampai saat ini, barangkali masih tetap ada hanya dlam format yang berbeda. Kepiawaian menari seorang geisha atau ronggeng telah bergeser menjadi kehandalan menari erotik dan menyanyi dengan suara yang mengundang birahi. Panggung-panggung tempat pementasan ronggeng maupun geisha telah berubah menjadi remang-remangnya suasana kafe. Dan kesakralan ‘darah perawan’ sudah tidak ada lagi harganya.
Inilah sebingkai lukisan aliran realisme pada jaman ini, sosok-sosok geisha, ronggeng yang dipuja pada jamannya, telah mengalami reinkarnasi menjadi penari-penari striptease yang tidak perlu melewati serangkaian prosesi dan ‘laku’ layaknya seorang ronggeng. Derasnya arus globalisasi telah meluluh-lantakkan metafor-metafor ‘suci’ seorang geisha maupun rongeng. Se’miring-miring’nya geisha, masih mengemban metafor budaya sebagai jati dirinya, yang semakin sulit kita dapati pada jaman sekarang.

(Catatan tugas kuliah, daripada gak update. Semoga bermanfaat)

Labels:


Selanjutnya...

Monday, August 20, 2007

buruh merdeka


Kamis, 16 Agustus 2007 pukul 00:00:00 WIB

Di malem yang dingin, ampir di setiap sudut kampung dibikin panggung kecil, bahkan dibeberapa ruas jalan ditutup karena lagi diadain 'tirakatan' peringatan 62 taon kemerdekaan negeri tercinta ini. Bukan karena gak mau menghargai jasa para pejoeang, atau bukan karena emang gak ada tuntunan dari Rosulullah SAW, kalo aku gak bisa ndatengin acara 'sakral' tersebut. Bukan pula biar generasi mendatang se-melempem kerupuk, ketika sore sebelomnya diadain lomba makan kerupuk buat anak2, setiap taon !!. Di kampung laen bahkan diadain lomba adzan buat remaja. Tapi pemenangnya bukan yg mampu mendatangkan seberapa banyak jama'ah shalat di mushollanya. Hmmh.... di usia ke 62 taon ini makin banyak rasanya orang yang memaki jamannya, memaki bangsanya... ketika krisis belon ketemu ujungnya, ketika teguran bencana belon juga bikin jera.

Jum'at, 17 Agustus 2007 pukul 07.23:33 WIB

Seorang temen ngirim SMS "INDONESIA lebih tua dari Malaysia, INDONESIA lebih luas dari Singapura. Hanya itukah kelebihan kita ? Selamat ulang tahun untuk 300.000.000 warganya". Ironis !!... di negeri yang subur makmur, tata tentrem, loh jinawi, kerta raharja ini... kita bak semut kelaparan ditengah kubangan gula. Kesuburan yang melenakan... betapa tidak ?? Tongkat kayu singkong dilempar aja ke kebun, tumbuh jadi tanaman !!! Padahal di Jepang, (katanya...) buat numbuhin yang kaya' gitu perlu sekian banyak peneliti, cendekiawan bahkan profesor. Tentu bukan salah tanah airnya kalo kita jadi 'budak' di negeri sendiri.

Seorang temen yang laen, nyoba mbandingin 'kebaikan' para penjajah. Beberapa negara pernah 'nyicipin' kelezatan negeri kita ini, sebut aja Portugis, Spanyol, Jepang... tapi yang paling kerasan adalah Belanda. Dan sampe sekarangpun kita masih bisa ngliat sisa-sisa 'kebaikan' Belanda, bangunan-bangunan kuno bergaya Eropa, pabrik-pabrik tua... dan yang keberadaannya masih bisa kita rasain tapi gak nampak, yaitu sikap mental. Berabad-abad lamanya kita didoktrin, dikerdilkan sikap mentalnya biar gak punya nyali dan bermental buruh upahan. Mau ngelakuin sesuatu jika ada imbalannya, mau nolongin orang jika ada maunya, mau beramal jika dijanjiin sorga !!!. Hingga cita2 tertinggi cuman sebatas pengen jadi Priyayi, Pak Dinas (kalo dulu seragam Korpri). Sekolah tinggi-tinggi, suap sana-suap sini.. tujuannya ya biar bisa jadi Pak Dinas. Temen tadi nyoba mbandingin dengan sisa-sisa koloni Inggris, mereka relatif lebih cerdas. Bahkan dengan sukarela bikin Negara Persemakmuran, bangga dengan mantan penjajahnya. Trus apa setelah moment 17 Agustus '45 kita jadi 'merdeka' beneran ?? apa masih ngerasa dikerdilin mentalnya selama lebih 32 taun ??. Bukannya mau nyalahin Belanda dan nyesel, koq kita gak dijajah Inggris aja, tapi sikap mental 'kuli' yang dah jadi karakter ini yang susyah dirubah.

Ada pesan berantai via e-mail yang dibikin pake Power Point isinya kurang lebih gini :

If A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z is equal to 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26,

maka... apa yang bisa bikin hidup ini bisa bermakna 100% ???

Hard Work : H+A+R+D+W+O+R+K (8+1+18+4+23+15+18+11) = 98%

Knowledge : K+N+O+W+L+E+D+G+E (11+14+15+23+12+5+4+7+5) = 96%

Love : L+O+V+E (12+15+22+5) = 54%

Luck : L+U+C+K (12+21+3+11) = 47%

trus apaan yang bisa bikin hidup ini maksimal 100% ?? apakah.... Is it Money ? ... NO ! ! !

Money : M+O+N+E+Y (13+15+14+5+25) = 72%

ternyata yang bisa bikin hidup ini lebih bermakna adalah...

ATTITUDE : A+T+T+I+T+U+D+E (1+20+20+9+20+21+4+5) = 100%

Yup's, Attitude atau SIKAP ! Rubahlah sikapmu maka hidupmu akan berubah ! (hehe... kaya' lagi ngisi training motivasi aja !)

Kaya'nya untuk berubah sikap, kita gak kudu nunggu dijajah Inggris dulu deh ! Di peringatan 62 taon kemerdekaan ini, layak buat dijadiin moment buat merubah sikap. Kalo negeri ini ibarat manusia, usia 62 taon dah mulai mikirin alam 'sono'. Dah dewasa, bahkan dah tua... mustinya udah paham mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang haram dan mana yang halal. Mental kuli atau buruh upahan, yang hanya mau beribadah jika dijanjiin sorga dan 'terpaksa' beramal karena takut sama neraka... kaya'nya perlu dirubah biar lebih ikhlas. Karena Allah gak bakalan lupa sama kebaikan yang udah kita lakuin dengan ikhlas, meski cuman nyingkirin duri di jalan biar orang laen gak ketusuk.

Labels:


Selanjutnya...

Friday, August 03, 2007

kodok manjat pinang



busyett ... !!! ampir lupa neh cara update ! Kemaren abis kecurian seh, untung si pencuri ketahuan. Ampir dua bulan, ngedem aja bermesraan sama pencuri.. tau-tau dah ampir Agustusan lagi. Kalo taun lalu Agustus crita warna kelamin... nah, taun ini mau crita tentang kodok.

Kaya' biasanya, Agustusan dimeriahkan dengan warna-warni kain, ngecat gerbang kampung dan... gak lupa panjat pinang. Acara paling favorit di Kampung Kodok. Pagi-pagi banget di sepetak sawah kering warga kampung kodok dah ngumpul. Sebatang pinang licin udah nancep dan macem-macem hadiah bergantung di atasnya. Begitu kedenger aba-aba mulai... segerombol kodok langsung manjat pohon pinang tadi. Penonton gak kalah ramenya... cuman mayoritas ngejek mulu. "Udah deh... gak mungkin loe bisa manjat setinggi itu !!!" yang lain nimpalin "Loe pada punya otak gak ?? gak mungkin kodok bisa naik pohon setinggi pohon pinang... mana licin lageee !!". Satu per satu kodok-kodok mulai berjatuhan... ada yang udah separoh jalan jatuh juga. Penonton makin seru teriak.. "Huuuuu.... apa gw bilang !!!". Bahkan kodok-kodok yang badannya kekar dan bertatto (sering fitnes & body buliding seh)... merekapun cuman nyampe tiga perempat tinggi pohon pinang... jatuh juga.

Tapi... ssstttt... ntar dulu, seekor kodok ijo yang kecil, kerempeng... terus aja naik... naik... dan naik. Ampir seluruh penonton gak ada yang ngasih support, semua ngejek, mencibir. Orang kodok-kodok yang gede dan kekar aja dah pada berjatohan... mana mungkin kodok kecil, kerempeng bisa nyampe atas... khayal bin mustahil !!!. Banyak yang gak percaya. Tapi, begitulah kisahnya... Kodok Ijo yang kecil dan kerempeng tadi, akhirnya bisa nyampe di atas dan dapet seluruh hadiah yang digantung.

Nah, ketika dah nyampe di bawah lagi... langsung dikerumunin kodok-kodok yang laen. Pada penasaran, pengen tau... apa seh resepnya, koq dia bisa nyampe di atas ??? Ketika dihujani pertanyaan bak seorang artis yang barusan cerai untuk yang ke 17 kalinya... si Kodok Ijo cuman plonga-plongo... sesekali senyum datar. Baru setelah temen dekatnya nepuk pundak dari belakang, dia kaget. Dari temennya itulah, kodok-kodok lain jadi tahu... ternyata Kodok Ijo tadi kodok tuli... !!!

Pantesan, hujatan, ejekan dan cibiran penonton gak nyurutin semangat dan keyakinannya bahwa dia mampu mencapai atas, karena emang gak denger. Kadang-kadang sikap ndableg, cuek, tuli... juga diperlukan ketika keyakinan hati udah mantep. Kita terlalu sering atau bahkan selama ini jadi orang laeeennnnn terus ! gak pernah jadi diri sendiri. Kita terlalu takut nanggung resiko ketika jadi diri sendiri, makanya selalu berlindung di bawah bayang-bayang orang (baca: kodok) lain. Padahal, komentar orang lain tuh macem-macem niat dan motivasinya. Ketika kita dapet sukses... mereka bilang, "emang gak kaya' loe ! salut gw... bener-bener hebat !!!" ujung-ujungnya, minta dicipratin. Coba kalo giliran kita bangkrut, pailit... paling-paling mereka bilang, "halah... loe tuh ngaca !!! orang kaya' loe koq pengen sukses !!! gak mungkin bin mustahil !!!". Bukannya nolongin ketika kita susyah, malah nyukurin !.

Kampung Kodok dah merdeka sejak 62 taon yang lalu... dan setiap taon diperingati dengan pesta pora. Tapi mereka gak nyadar... bahwa selama itu juga sikap dan jiwanya masih terjajah. Karena gak berani nunjukin jatidirinya, kepribadiannya. Mereka (para kodok)... terlalu takut dengan telunjuk dan tekanan dari kodok kampung Adidaya (baca: super power). Sehingga apapun kemauan kodok dari kampung Adidaya tadi... terutama oleh kodok aparat pasti diturutin. Meskipun harus mengorbankan warga kodok kampungnya sendiri.

Makanya gak heran, kalo kampung kodok yang ini selalu didera multi krisis berkepanjangan. Karena ampir semua warga kodoknya gak punya lagi jati diri... atau bahkan harga diri. Satu hal yang bikin kita bangga... karena kejadian di kisah tadi cuman terjadi di Kampung Kodok !!. Kalo di kampung kita seh, enggak ! (nggak beda kaleee....)

**Kisah di atas fiktif belaka. Kalo ada kesamaan nama, tempat dan waktu, cuman kebetulan semata. Karena kita semua tahu... manusia gak mungkin sebodoh kodok.

Labels:


Selanjutnya...

Thursday, May 31, 2007

"D" day...


yang jelas bukan karena abis baca sepasang buku yang fenomenal tahun ini, Change dan Re-Code tulisan Rhenald Kasali, ketika hari ini saat aku posting ini... adalah hari terakhirku duduk di kursi hangat Creative Director di sini. Emang hidup ini dituntut adanya perubahan, katanya khan di dunia ini gak ada yg gak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Aku harus ngakuin.. ini keputusan sulit dan bukannya tanpa resiko. Cuman bagiku, hidup ini sebenernya juga serangkaian keputusan-keputusan yang dibelakangnya mengekor sederet resiko yang musti ditanggung. Bukankah berani hidup juga resikonya harus berani mati ?? emang kadang ironis... tiap orang pengen masuk sorga, tapi takut mati. Padahal gak ada sorga yg gak diawalin kematian.... Nah loh !!!

Bisa jadi bagi orang laen keputusanku ini suatu tindakan bodoh, mengingat di kantor ini aku dah merintis karier sejak jadi Graphic Designer... Art Director... sampe posisi strategis di sebuah Advertising Agency, yaitu Creative Director yang aku perjuangin selama ampir lima taon. Tapi atas nama keyakinan dan berdamai dengan diriku sendiri, resign harus aku lakukan. Hmmhh.... tindakan bodoh ?? maybe !... seperti beberapa taon lalu ketika aku mutusin buat merantau ke tanah seberang. Salah satu tujuanku adalah pengen ngerasain penderitaan yang paling berat dalam hidup ini... (dasar bodoh !!!). Kenapa itu kulakukan ?? Jawabannya sangat simpel, biar ntar kalo dah tua ketemu masalah/penderitaan yang relatif 'ringan' udah gak kaget... ! Cuman ternyata ... penderitaan, masalah, tiap fase dalam hidup ini beda-beda konteksnya.... Sia-siakah penderitaan tadi ?? ternyata gak juga ! karena ada hal-hal yang gak bisa dicapai saat kita masih manja meringkuk dalam comfort zone yang melenakan.

Keputusan resign dah diambil... palu udah diketok... dan hari ini aku musti ninggalin kantor ini. Hal biasa dalam hidup, apalagi di dunia kerja yang riil. Dan selanjutnya, atas nama keyakinan tadi... aku musti bisa jadi diriku sendiri, minimal sementara ini aku pengen free... freelife, freeman, ... freelance... but, not freesex (!) dan belon kepikir sampe kapan free-nya, karena gak ada kebebasan mutlak. Yang jelas dengan keputusan ini, aku musti nanggung beberapa resiko... take home pay tiap bulan jadi berkurang, gak ada lagi jatah pulsa buat SMSan... dan yang pasti gak bisa intens lagi On-Line tiap hari (maklum... biasa nebeng fasilitas kantor). Tapi urusan nge-blog.. Insya Allah tetep jalan, walau dengan cara apapun. Do'ain aja.

Atas nama keyakinan juga (meski aku sendiri juga gak tau, keyakinan macem apa ??) aku jadi ngerasa dah pikun. Sementara perusahaan ini butuh banyak fresh blood buat mempercepat akselerasi menuju bintang terang yang pasti ! akan tercapai. Insya Allah. Di penghujung tulisan ini, aku musti minta maap sama Bos Besar, karena cuman sampe hari ini aku bisa ngawal perusahaan kreatif ini menuju gerbang kesuksesan dan kemuliaan. Buat Bos Kecil, jangan pernah tanyakan apakah kita masih berteman ? karena satu musuh udah lebih dari cukup tapi sejuta kawan masih terasa kurang. Temen-temen Account Excecutive yang sering bingung karena deadline sering molor gara-gara brainstorming di kreatif yang kelamaan, aku juga minta maap. Juga Art Director-ku... jangan pernah serius ! Karena Paul Valery pernah bilang "orang-orang serius hanya punya ide-ide terbatas, orang-orang yang punya banyak ide gak pernah serius". Terakhir thx berat buat my special partner, yang setia nemenin detik-detik tersulit menjelang deadline... percikan kecil kreatifmu gak pernah mati meski kadang kita discus sampe malem... aku gak bisa nulis apapun untukmu ! Suerrr !!! yang jelas, kaya'nya gak pernah lagi deh aku bisa nikmatin kopi & krim hangat seduhanmu... (koq jadi mello gini seh ???).

Terakhir, buat temen-temen blogger, apalagi yang udah ikhlas nyantumin link blog-ku ini... sering-seringlah nengok ke sini, tinggalin jejak, minimal sekali-kali... meski kadang telat updatenya. Juga buat sodara-sodaraku chaterman maupun chaterwati, harap dipersorry kalo beberapa hari ke depan gak bisa lagi chat yg 'edan'... saling ejek... baik di YM maupun di G-talk (huhhh.... sok beken !!!). Buat semua aja, do'ain ya biar aku bisa njalanin semua ini dengan sukses... bukan cuman sukses di dunia yg sementara ini, tapi juga sukses yg lebih gede di alam 'sono'... Amien !

Labels:


Selanjutnya...

Wednesday, May 16, 2007

misteri jidat



apa seh.. istimewanya jidat tuh ?? !!. Ya, kalo agak romantis dikit istilahnya diperhalus jadi kening-lah. Kaya' yang di lagu-lagu pop itu lho... "ijinkanlah kukecup keningmu...". Khan lucu kalo diubah jadi mengecup jidat, gak romantis bo' !!!. Kenapa pula kalo pengen tau badannya panas apa gak, koq yang pertama kali dipegang jidatnya ?? trus, yang demam badannya, yang dikompres juga jidat ?? Dan kalo nempelin telujuk posisi diagonal di jidat, artinya 'gak waras' ?? Belon lagi kalo jidatnya didorong pake tiga jari sama temen sendiri aja, bisa marah-marah ??

Ada yang bilang di jidat itulah pusat konsentrasi !!! Kaya' ada sesuatu yang sangat berharga, tersimpan di baliknya. Bisa otak, bisa pikiran, atau bahkan harga diri ! Buktinya ketika jidat itu didorong tangan temen... bisa mencak-mencak !!! harga dirinya serasa terkoyak-koyak. Api kemarahan bisa tersulut cuman karena adegan 'sederhana' tersebut. Kita jadi bertanya-tanya... segitu pentingkah jidat ??? Trus, ngapain juga Allah naroh jidat di wajah ??

Coba tengok kondisi si jidat dalam situasi yang lain. Dimanakah posisi jidat ketika kita sedang khusyu' bersujud dihadapan-Nya ?? Sambil ngucapin dan ngakuin keagungan dan ketinggian-Nya ??... Hohoho.... ternyata jidat yang kita bangga-banggain, yang kita identikan dengan harga diri... sedang menempel gak berdaya di alas sajadah, tikar, lantai, atau bahkan tanah berpasir. Jidat sang simbol harga diri, gak ada artinya sama sekali dihadapan-Nya. Inilah posisi terdekat kita dengan Sang Khaliq, Sang Pencipta. Gak cuman di bibir ngucap syukur kepada-Nya tapi juga di dalem hati mengakuinya... dan otak ngebayangin betapa mulia dan tinggi-Nya Dia... sedang kita hina 'n berlumur dosa. Bukannya salah satu yang bisa bikin sholat jadi khusyu' itu ngebayangin keberadaan-Nya ?? dan kalo gak bisa juga... kita musti yakin kalo Dia lagi ngliatin kepasrahan kita.

Dalam satu taon, pasti ada bulan yang istimewa... yaitu bulan Ramadhan. Dalam satu bulan-pun ada pula hari yang sangat istimewa... yaitu hari Jum'at. Demikian juga dalam satu hari satu malem, pasti ada saat-saat paling istimewa buat berjumpa dengan-Nya... yaitu sepertiga malam yang terakhir, ketika lutut lemah bertekuk... dan jidat menyentuh dinginnya alas sholat. Air mata bisa ngucur gitu aja... inilah saat paling tepat buat mengadu sama yang gak pernah nyuekin, dari segala masalah yang mendera... Timing yang tepat buat nengok ke belakang, ngliatin lumuran dosa yang kita buat sepanjang hidup, karena terlalu mremehkannya. Padahal dosa yang paling gede, adalah yang disepelekan pelakunya. Berikutnya, mata ini bimbang menatap ke depan... sisa umur yang bakal kita lalui. Tinggal berapa taon, bulan, minggu, hari... atau jam, menit... bahkan detik !!! Sementara, persis di depan kita ada Persidangan Agung, tanpa pembela dan pengacara... Nengok ke belakang lagi... bisa gak seh, gunungan dosa yang udah jelas dan pasti kita buat, dihapus dengan sisa waktu yang gak tau tinggal berapa saat ??

Akhirnya kita tau.. kenapa Allah naroh jidat di batok kepala. Bukan karena kita akan susyah bersujud kalo jidat ditaruh di punggung atau di dengkul. Tapi yang jelas buat mikirin, betapa sesuatu yang begitu berharga di mata manusia... bisa gak ada apa-apanya dihadapan Allah. Mumpung masih ada kesempatan... mumpung masih ada waktu buat memposisiin jidat di tempat yang tepat. Biar dosa segede gunung, bakalan hanyut kesiram cucuran airmata penyesalan, istighfar dan taubat yang beneran. Karena ampunan-Nya yang seluas langit dan bumi.

Hmmmhhh... ternyata ada fungsi lain dari jidat, gak cuman sekedar lokasi yang tepat buat kecupan mendarat. Tapi juga buat mengikis kesombongan di depan manusia, apalagi dihadapan-Nya.

Labels:


Selanjutnya...

Wednesday, February 21, 2007

dasar... iblis !!!



ada satu penyakit yang umurnya udah berabad2 lamanya. Lebih lama dari penyakit AIDS, Cikungunya, Demam Berdarah, Flu Burung apalagi Panu. Karena penyakit ini neh, seumuran sama usia manusia... namanya penyakit sombong bin takabur.

Dikisahkan dalam Al Qur'an.... ketika manusia pertama yg dikasih nama Adam diciptakan, Allah swt. ngasih instruksi bahwa semua mahkluk harap bersujud kepada Adam. Lalu sesaat kemudian... semua pada sujud, termasuk malaikat. Kecuali Iblis (laknatullah). Lalu Allah swt-pun menegurnya, kenapa Iblis gak mau sujud ?? apa jawaban Iblis ?? Dengan sambil cengengesan... dia bilang "hehehe.... ana khoiru min hu !" yang artinya... gw lebih baek daripada dia (Adam) !. Masih dengan sikap yg cengangas-cengenges... dia lanjutin "kholaqtani min naar, wa kholaqtahu min thiin... huhhh !!" artinya... Engkau ciptakan aku dari api... sedangkan dia (Adam) Kau bikin dari tanah...

Inilah kesombongan yag pertama kali dilakuin oleh makhluk-Nya. Dasar Iblis !!! Dengan bangganya dia bilang bahwa api lebih baik daripada tanah. Padahal yg namanya api tuh gak bakalan idup tanpa adanya bahan bakar, entah itu minyak, gas, kayu... bahkan hutan sekalipun !!. Ironisnya kita suka lupa... bahwa tanah tuh jauh lebih kuat dari api. Sebatang lilin yang menyala, ketika ditimbun dengan segenggam tanah.... matilah dia. Tapi.... di Kasongan (Jogja) tempat industri keramik dan gerabah dibuat, di Gombong (Ja-Teng) tempat pabrik2 bikin genteng... segenggam tanah dipanasin beratus2 bahkan beribu derajat... bukannya ancur, bahkan makin kuat dan keras. Kita dah ditipu sama Iblis... dibikin shock duluan dengan tipudayanya !

Kelebihan Iblis inilah yg kadang menyusupi kekurangan kita. Dengan teknologinya yg demikian canggih dan halus... kadang2 kita gak nyadar, kalo sebenernya kita lagi dikerjain sama Iblis. Ketika manusia digoda dengan harta, jabatan, kenikmatan dunia... masih bisa lolos, maka mulailah Iblis menyerang dengan pujian dan sanjungan. Membikin kita betah berlama2 didepan cermin... muter kanan, muter kiri... senyam-senyum seolah kitalah yg paling cakep, paling pinter, paling bijaksana-bijaksini. Melangkah keluar rumah dg mbusungin dada... PKI (pake kacamata item), naik motor/mobil musti ngebut... (jagoan man !!). Seolah orang lain semua berada dibawah kita. Astaghfirullah.... Jika yg kaya' gini gak segera diobatin, bisa ngurangin bahkan ngilangin kekihlasan kita dalam beramal. Kita gak bisa hidup sendiri... kita butuh orang lain, bahkan untuk kerjaan yg paling ringan sekalipun, misalnya 'tersenyum'... kita perlu orang lain ! Kalo gak percaya... silahkan senyam-senyum sendiri di piggir jalan... Jangan salahkan, kalo orang2 pada ngacir !!!.

Penyakit sombong ini kalo didiemin, bukannya sembuh.... tapi makin parah. Kalo tadinya cuman bangga dengan dirinya sendiri dan nganggep orang laen remeh... maka next step adalah iri. Gak seneng liat orang lain sukses !. Panas, liat tetangga ganti mobil. Stress, liat temen sekantor dipromosiin posisinya. Nah kalo iri ini juga gak diobatin, stadium berikutnya adalah dengki. Bukan cuman gak suka orang lain sukses, tapi Iblis semakin mencengkeram dengan bisikan2nya... mulai mikir buat mencelakai atau nggagalin karier temennya. Pada akhirnya... otak dan hati makin membara... dihalalkan segal acara buat ngerebut kesuksesan orang lain tersebut. Na'udzubillah !!!

Hmhhh... sombong, penyakit berbahaya yg udah ada dari jaman Nabi Adam hingga sekarang, tapi kita sering merindukannya. Ketika hidup makin sulit, bahkan ada orang yang mengutuki nenek moyangnya... "gara2 Adam makan buah terlarang... hidup jadi susyah di dunia ini. Coba kalo dia gak makan buah larangan, manusia masih enak2 hidup di sorga...." Dasar manusia... diuji dengan kesyusahan, menggerutu !! diuji dengan kesuksesan.... jadi sombong !!... kapan bersykurnya ???

Labels:


Selanjutnya...

Monday, January 22, 2007

"burung"ku enggak flu



nah loh ! .... jangan gampang terpengaruh sama tanda petik (").... Kata "burung" yang dijudul itu buat merujuk pada Unggas, karena walaupun wabah mematikan yang lagi 'naik daun' namanya Flu Burung, toh yang nyebarin bukan cuman burung, tapi hampir semua unggas. Ntar kalo dah Pebruari, melihara ayam di Jakarta bisa kena pidana lho !. Kita nggak mbayangin kalo suatu saat, punya ayam termasuk 'kejahatan'. Tapi emang Allah berkehendak laen, kali ya... manusia dah diperingatin dengan berbagai cara, tetep aja suka menentang kebijakan-Nya. Padahal banyak hal yang bisa diperoleh dari unggas, opor ayam, ayam gorang, ayam bakar, puyuh goreng, bebek kremes.... dll, belom lagi manfaat telornya. Allah juga dah ngasih contoh buat kita lewat keluarga unggas.

Liat aja kehidupan di sebuah komplek perumahan elit "Unggas Permai".
Yang pertama rumah tangga model keluarga Om Bebek (itik). Gak tau lagi istilahnya buat Om Bebek yang hobi kawin ini, kalo seorang muslim poligami maksimal 4, dalam satu rumah Om Bebek ini bininya bisa ampe 40 ! (10 X lipat manusia). Gak percaya ? bisa tanya sama sarjana peternakan. Tante Itik gak kalah 'kebangeten'nya. Bayangin, beliau2 ini bisanya cuman berbuat dan gak mau tanggungjawab, maunya cuman seneng2 aja. Setelah mengandung, melahirkan telurnya... gak mau ngeramin ! (emang pernah liat itik ngeram ?). Anak2nya dibiarin diasuh orang (baca: unggas) lain, bisa Orangtuanya, Mertuanya, Pembantunya ... dan selanjutnya Tante Itik ini akan sibuk dengan aktifitasnya sebagai 'betina karier'. Kehidupan keluarga yang bener2 broken home.

Model berikutnya kehidupan keluarga Pak Jago, beliau ini juga paling doyan kawin. Gak peduli itu bini tetangga, bawahannya, saudarinya, adik iparnya... bahkan yang paling 'bejat' adalah anak perempuanya sendiri, tega digaulinya. Pak Jago bisa ML disembarang tempat gak peduli diliat orang, kalo dah tersalurkan libidonya... urusan selesai. Persetan dengan tanggungjawab, pendidikan anak dsb. Nah, untungnya Bu Ayam ini termasuk betina yang cukup sabar. Hasil perbuatannya dengan Pak Jago senantiasa dierami, dijaga, bahkan kadang ngeramin juga telor Tante Itik, badannya sampe kurus... hingga anak2nya menetas. Anak-anaknya dibesarkan dengan single parent. Diajarinya nyari makan, diasuhnya dengan kasih sayang. Gajah sekalipun kalo berani nggangguin anak2nya niscaya bakal dilabrak, kasih sayangnya yang tulus bahkan mampu melampaui logika, bukannya kekuatan Gajah jauh di atas kemampuannya ?. Bu Ayam ini rela berkorban apapun buat keselamatan dan masa depan anaknya. Namun... Bu Ayam ini juga penganut Poliandri, termasuk mau juga sama anak jantannya.

Model keluarga yang ketiga adalah keluarga Pak Merpati yang hari-harinya dipenuhi dengan kemesraan diantara mereka. Pasangan ini mendayung bahtera keluarganya berdua, mulai dari mencari nafkah, mengerami telur2nya, mengasuh anak2nya... mereka berdua bergantian dengan saling pengertian. Baik Pak Merpati maupun Bu Merpati, tau betul hak dan kewajibannya, gak bakalan nuntut hak kalo kewajiban belom ditunaikan dengan benar... pasangan yang ideal. Gak heran, kalo banyak kartu undangan pernikahan bergambar sepasang merpati.

Itu cc-line (baca: sisi lain) dari kehidupan unggas yang lagi gencar2nya dibinasakan, karena kesalahan yang gak mereka ketahui. Sekali lagi cerita diatas cuman terjadi pada komplek perumahan elit "Unggas Permai", bukan di t4 kita, yang jelas Allah telah memberikan banyak contoh buat kehidupan manusia, tapi kita kadang gak bisa membacanya. Bukankah tragedi anak Adam, Qobil dan Habil juga 'berguru' pada unggas, burung gagak ketika menguburkan jenazah saudaranya ?

Allah udah ngasih contoh dan menegur kita dengan cukup sopan, lewat bencana alam, kecelakaan sarana transportasi, wabah penyakit dan lain-lain... adakah kita mendengarnya ? 'Met taon baru 1428 Hijriyah... moga aja di taon ini kita lebih peka dalam memaknai contoh dan teguran-Nya. Amien. Sebab makin nambah umur, makin jauh kita tinggalin garis Start... berarti kita makin deket sama garis Finish.

Labels:


Selanjutnya...

Tuesday, December 26, 2006

lupa ingatan


hmmhh... dua kata bertentangan yang bisa dipadukan jadi satu kalimat hanya dengan akhiran 'an', lupa dan ingat. Kita suka kejebak dalam dikotomi 'lupa' dianggap negatif dan 'ingat' dianggap positif. Biasanya kita gak senang kalo lupa, maka musti berusaha mengingat sebanyak-banyaknya. Cuman... kalo mau jujur, betapa repotnya hidup ini kalo gak ada yg bisa kita lupakan ! segala hal/kejadian yang menyedihkan, mengerikan, bikin marah, dsb. Buat sesuatu yang menyenangkanpun, kita perlu lupa. Bayangin, kalo peristiwa-peristiwa yang lucu keingat terus... kita akan ketawa selamanya, atau sebaliknya terhadap kejadian traumatik.

Untuk bisa konsentrasi, memfokuskan (mengingatkan) diri pada satu hal, berarti juga harus melupakan (hal-hal lain). Misalnya ketika sholat, bisa dilakukan dengan khusyu' ketika kita bisa melupakan urusan-urusan lain (seperti here & now concept). Artinya, ada saatnya kita musti lupa. Nah... kalo dah nyampe sini, lupa bisa jadi bukan perkara negatif, melainkan sebaliknya. Bahkan lupa adalah tujuan juga ! (bingung khan ?? ini filsafat !).

Ketika sesorang belajar menari misalnya... dia harus latihan mengingat, biar gak lupa sama gerakannya, susunannya, urutannya, dsb. Cuman, sebenarnya orang tsb. juga sedang melatih tubuh biar lupa. Jadi ketika menari, gak harus lagi mengingat semuanya. Bayangin ! kalo seorang penari musti mengingat gimana seluruh anggota tubuhnya bergerak, malah jadi kaku dan gak sedap dipandang, Si penari-pun gak bisa menikmatinya, karena gerakan belon sampe pada rasa, terlalu sibuk pada ingatan.

Demikian juga untuk hal-hal lain... belajar naik sepeda, nyetir mobil, bekerja, beribadah... dibutuhkan totalitas dalam konsentrasi. Saat seorang sahabat dan menantu Rosulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA. terkena panah sewaktu perang, para sahabat lain ingin mencabut anak panah tsb. Tapi Ali RA bilang... "tunggu ! nyabut anak panahnya ntar aja, kalo aku lagi sholat." Artinya apa ? Betapa generasi pertama Rosulullah SAW dulu begitu khusyu' dalam beribadah. Sholat bukan cuman aktifitas otak... apalagi aktifitas fisik semata ! tapi sudah menjadi aktifitas hati. Sehingga yang di-ingat hanya satu... Allah SAW, dan me-lupa-kan yang lain, termasuk anak panah yang menancap di tubuhnya.

Beruntunglah kita, yang dikaruniai sifat lupa dan inga', tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya. Kapan kita musti lupa dan kapan seharusnya ingat, kasihan si-lupa kalo disalah-salahin melulu. Karena pada hakikatnya tidak selamanya lupa itu beraroma negatif, dan ingat itu musti positif. Di moment penghujung tahun 2006 ini, lupa dan ingat menjadi hal yang mutlak diperlukan, sebagai alat buat bercermin diri, buat introspeksi diri atas segala hal yang sudah di lakukan, biar kita nggak lebih bodoh dari keledai ! (katanya keledai binatang paling bodoh ?) Orang bijak bilang : "sebodoh-bodoh keledai, tak akan ter-antuk batu yang sama untuk kedua kalinya". Kalo 2006 masih sama kaya' 2005... berarti kita masuk kategori 'orang yg merugi'. Apalagi kalo taon ini lebih jelek dari taon kemaren... wah celaka !. Kalo mau jadi orang yang 'beruntung', maka '06 harus lebih baik dari '05, dan '07 kita songsong dengan niatan harus lebih baik dari '06. Amien !

Labels:


Selanjutnya...

Sunday, December 10, 2006

rebellious



"generasi muda, jangan mau jadi generasi penerus !!" gitu kira-kira sebagian orasi Rendra waktu ultahnya yang ke 71 kemaren. Sebuah ungkapan yang berkesan kontroversial, khas Rendra. Dalam konsep kekinian, rasanya 'celoteh' tersebut cukup relevan. Emang, kalo generasi muda cuman jadi penerus doang... kapan majunya, mandul bin gak bisa kreatip dong !! Masih mending kalo yang diterusin, sesuatu yang membanggakan.... Nah, kalo generasi muda jadi penerus kebobrokan moral... mulai dari selingkuh pejabat, sampai skandal sex anggota dewan yang terhormat... ?? Belon lagi mental koruptor, utang luar negeri.... apa itu yang musti diterusin ?! Amit-amit deh !! mendingan ambil jalan alternatif !.

Generasi muda musti jadi generasi 'pemberontak' ! (Bukan memprovokasi lho !!). Tapi emang bener... generasi muda musti berani keluar dari comfort zone ketiak bapak moyangnya, musti berani berpikir lateral, musti berani menolak suapan Mama... kalo itu hasil korupsi Papa. Bukannya malah merongrong Or-Tu biar lebih bersemangat dalam berkorupsi. Kalo generasi mudanya 'melempem' kaya' kerupuk kerendem kuah... wah, tinggal nunggu sebentar lagi deh... Indonesia ditarik dari peredaran.

Udah waktunya generasi muda 'tunjukin dada loe !!'. Bukan ngebanggain kesuksesan Papa... Om... apalagi Opa, Oma, dst. Kalo toh Or-Tu bisa sukses dan kaya... pelajarin prosesnya !! bukan asal terima jadi... karena biasanya gak bakalan lama deh, sukses warisan gitu ! Seseorang bisa merasakan manis ketika sudah merasakan pahit ! Orang bisa bilang gula itu manis, sesudah makan sayur Pare yang pahit. Kalo sejak nongol dari rahim Mama (musti pake caesar lagi !!) sampe segede sekarang... selalu dipenuhi segala fasilitas, mungkin belon bisa ngerasa manis. Walaupun orang laen yang mandang : enak bener jadi anak orang kaya, berak aja dicebokin !. Baru setelah jatuh pailit, Papa di penjara karena ketahuan korupsi atau Mama masuk TV karena ketahuan selingkuh.... baru deh merasakan, bahwa selama ini yang dimakan adalah 'manis'.

Generasi muda harus berani 'gila', untuk bisa menjadi change of agent. "Kepemudaan satu cabang dari kegilaan" kata sebuah hadits Nabi SAW. Emang kegilaan kadang ditakutin, cuman ada saatnya kegilaan diperlukan buat mengubah sejarah yang telah beku dan stagnan. Cuman, setelah itu jangan keterusan gila... ntar gila beneran ! Karena setelah babak pertama revolusi selesai, datang masanya untuk memakai otak dan renungan yang timbul dari kedewasaan berpikir.

Waktu Rosulullah SAW, mengajak kaum musrikin untuk menyembah Allah SWT dan meninggalkan berhala-berhala mereka... jawabannya, kami hanya menuruti apa yang dilakukan oleh nenek moyang kami ! Ibrahim AS muda, berani menghancurkan berhala-berhala, untuk sebuah 'perubahan'!. Meski demikian... sejelek apapun Or-Tu, musti dapet hak-nya buat dihormatin.

Kutipan dari bukunya HAMKA :

"Kerapkali orangtua menyesali pemuda, menuduhnya bekerja terburu2 dan kurang fikir. Kerapkali orang muda menuduh orangtua lamban, lambat bertindak dan terlalu banyak berfikir.
Alangkah sibuknya dunia kalau pemimpin hanya di tangan yang muda-muda. Dan dunia akan membosankan karena lamban geraknya kalau yang memimpin hanya yang tua-tua.
Gabungan di antara gelora semangat yang muda dengan renung-fikiran yang tua itulah, yang menimbulkan keseimbangan di dalam perjalanan hidup."

Labels:


Selanjutnya...

Monday, December 04, 2006

need & want



emang beda, ‘kebutuhan’ dengan ‘keinginan’ ?? Nah.. !! kalo gak bisa mbedain keduanya, ini nih... pangkal dari petaka negeri !!!

Segawat itukah ??

Coba panggil tuh koruptor kelas kakap, interogasi dia ! Apa alasannya koq tega-teganya korupsi uang rakyat, jualan aset negara... padahal gak pernah kulakan ! Bukannya sudah tercukupi ’kebutuhan’ hidupnya untuk tujuh turunan ??

Apa bedanya koruptor tadi dengan seseorang yang babak-belur digebukin massa hanya karena mencuri ayam untuk bayar SPP anaknya ???

Jawabannya, koruptor mencuri asset Negara untuk menuruti ‘keinginan’…. dan pencuri ayam melakukan tindakan tersebut untuk memenuhi ‘kebutuhan’nya.

Dan masih sederet panjang tindak kejahatan lainnya… perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, perselingkuhan….. hanya karena pelakunya gak bisa mbedain, mana kebutuhan dan mana keinginan.

Peluang inilah yang kadang sering digunakan oleh sebuah iklan, untuk menciptakan sebuah ’kebutuhan’ baru. Sebuah produk yang tadinya gak menarik perhatian sama sekali bagi kita... tiba-tiba menjadi sesuatu yang ’harus’ kita konsumsi, hanya karena manisnya bujukan iklan. Misalnya.... sejak mengandung, seorang ibu sudah ’harus’ mengkonsumsi susu untuk ibu hamil. Begitu bayinya lahir.... udah dijemput oleh susu 1-2-3. Gedean dikit, ’disamber’ sama susu 4-5-6. Terusss... mungkin nanti dilanjutkan dengan susu 7-8-9, 10-11-12, ....., dst. sampe menjelang umur 40 ’dicegat’ dengan susu High Calcium. Semakin tua, beda lagi susunya.... sampe suatu saat nanti dibuat susu buat orang yang udah meninggal. (?)

Itu baru salah satu contoh.... masih seabreg ’kebutuhan-kebutuhan’ baru yang musti kita konsumsi.... masalah ketombe, gigi, mie instant, fashion, hand phone,.... dll. Makanya... gak terlalu salah, kalo segolongan ’AntiAd’ menuduh iklan sebagai ’desiring machine’. Bedanya hemat dengan pelit adalah : kalo hemat, kita yang mengatur uang.... tapi kalo pelit, kita yang diatur sama uang !.

Ketika seorang anak berusia 3 tahun ingin bermain dengan sebilah golok yang tajam, sangat mungkin ortu-nya melarang. Karena itu sebuah ’keinginan’ dan bukan suatu ’kebutuhan’. Larangan tersebut sebagai wujud rasa ’sayang’ pada anaknya, karena khawatir anaknya teluka, atau bentuk ’penundaan’ karena dirasa belum waktunya untuk bermain golok.

Kesadaran yang kaya' inilah yang seharusnya kita miliki, biar gak su'uddzan (berprasangka buruk) melulu sama Allah SWT. ketika banyak do’a-do’a yang belum terkabul dan harapan-harapan yang belum tercapai. Mungkin do’a kita cuman sebuah ’keinginan’ dan bukan ’kebutuhan’. Atau Allah SWT, nganggep kita masih terlalu anak-anak dan belum siap buat ngedapetin kesuksesan, kekayaan serta keberhasilan lainnya. Karena kalo dipaksain, kemungkinan besar akan terjadi sesuatu yang membahayakan. Sehingga Dia melarang atau menundanya sebagai wujud rasa SAYANG.

Labels:


Selanjutnya...

Sunday, November 12, 2006

here & now concept



apa sih bedanya minum secangkir teh manis pagi hari menjelang berangkat ngantor dengan malam hari sambil nonton prime time di TV ? Kalo ditanyakan sama Om Newton, jawabannya “gak ada bedanya tuh ! sama-sama manis, cangkirnya juga sama !” karena Newton menjawab dengan teori Determinasi, dimana segala sesuatu bisa diukur dan sifatnya mutlak.

Coba deh tanya sama Om sebelahnya yang berkumis tebal dan rambutnya jarang disisir, namanya Om Einstein. Jawabannya pasti laen ! Karena Einstein menjawab dengan teori Relativisme-nya, tergantung suasananya. Pagi2 bangun kesiangan karena abis dugem pulang dini hari, materi presentasi belon disiapin, sarapan buru2…. secangkir teh manis, jelas tak senikmat ketika diminum malem hari sambil ngobrol santai bareng keluarga.

Artinya apa ?

Ketika diminum pagi hari dengan kondisi serba buru2… mulut juga sama monyongnya, teh juga sama ditelennya…. tapi pikiran dan perasaan tidak ikut keminum, karena berada di tempat dan situasi yang lain !.

Itulah pentingnya konsep here and now ! Kalo kita bisa menghadiran diri kita seutuhnya…. baik fisik maupun non-fisik, maka segala aktivitas kita jadi maksimal.

Hadirkan diri kita di sini, sekarang juga ! Termasuk ketika baca tulisan ini. Nikmatilah ! maka banyak sekali hal2 tak terduga yang bisa kita raih.

Kalo lagi kerja... konsentrasikan pada kerjaan, maka pekerjaan yang berat akan selesai lebih cepat dari yang kita rencanakan. Apalagi kalo kerja di tempat yang membutuhkan daya kreatifitas tinggi, suplai andrenalin harus banyak, maka akan bermunculan ide2 ’gila’ tersebut.

Kalo lagi ngobrol sama temen, dengerin cur-hat... maka kita gak cuman mendengar tapi juga mendengarkan.

Emang beda ?, ’mendengar’ sama ’mendengarkan’ ??

Sekilas nampaknya sih sama... tapi, kita sering denger temen lagi cur-hat berurai air mata, ketika kita diminta pendapatnya .... gelagapan. Karena kita cuman mendengar dan gak mendengarkan. Sering dengerin ceramah, seminar, pengajian... kita denger koq ! malah sampe ngantuk2 segala. Tapi kalo ditanya kesimpulannya.... boro-boro ! karena kita cuman denger doang belon sampe ndengerin. Yang namanya mendengarkan tuh bukan cuman aktivitas telinga doang, tapi pikiran mencatat... perasaan juga ikut bersimpati.

Kalo lagi sholat... jika here and now concept ini diterapkan, bisa bikin khusyu’ sholatnya. Gimana bisa sholat yang bener… kalo waktu sholat malah digunakan buat mengkalkulasikan tender, pitcing, side job…. begitu sholat selesai, tengok kanan-kiri… dah dapet keputusan… ambil tuh proyek ! Segera ! sebelum keduluan competitor !

Makanya gak heran…. sholat dah ratusan kali, tapi kemungkaran, kemaksiatan, korupsi, tetep lancar aja jalan, karena sebenarnya belon sholat. Baru aktivitas berdiri, ruku’ sujud, duduk doang, belon masuk ke otak... boro-boro ke hati.

Gimana Allah akan mengingat kita, jika kita terlalu sering melupakan-Nya. Bahkan ketika sedang sholat sekalipun !

Labels:


Selanjutnya...

Thursday, June 15, 2006

Jogjaku retak...


6.000 lebih nyawa melayang... ratusan ribu rumah rusak berat, bahkan ambruk.. brukk.. sungguh sebuah "teguran" dari-Nya yang cukup sopan.

9, sekian skala Richter getarkan Aceh...
5,9 skala Richter getarkan Jogja...
butuh berapa skala Richter lagi untuk bisa menggetarkan hati kita ???

Tapi kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa semua itu... pasti "yang terbaik" menurut Dia..
dan kalo dah menurut Dia,... apalagi yg bisa kita perbuat ?? karena semua itu adalah wujud cinta-Nya pada kita...

semoga...

Labels:


Selanjutnya...