Thursday, May 01, 2008

kartinem vs khaterine


dua nama di atas ngingetin kita pada nama besar tokoh feminisme Indonesia, Kartini. Dua wanita beda nama, beda kasta tadi mencoba memaknai arti feminisme dengan caranya masing-masing. Kartimen seorang buruh pabrik garment yang musti berangkat pagi-pagi dan pulang dah ampir malem. Sementara Khaterine seorang karyawati sebuah perusahaan BUMN yang cukup mapan, dengan jam kerja yang ampir sama dengan Kartinem.

Yang ngebedain dari keduanya adalah alasan mereka keluar dari lingkup peran 'domestik'nya untuk merambah peran 'publik' di luar rumahnya. Kartinem dibela-belain kerja pagi ampe sore, kadang kalo shift malem bahkan pulang pagi, semata-mata buat menuhin kebutuhan hidupnya sehari-hari yang terasa makin mencekik. Khaterine lain lagi alasannya, sebagai istri seorang direktur beberapa perusahaan gede, justru ngerasa malu kalo cuman jadi ibu rumah tangga doang. Wanita baru bisa dibilang produktif kalo bisa dapetin uang sendiri. Predikat Sarjana Ekonomi seolah gak ada artinya, bahkan musti ambil S3 segala sambil tetep bekerja. Feminisme di mata Khaterine adalah wanita yang musti bisa sederajat dengan pria, punya posisi tawar sama, musti bisa mandiri dalam hal apapun termasuk dalam hal ekonomi. Gak ambil peduli, apakah suami dah mampu nyukupin buat kebutuhan hidup 7 turunan sekalipun. Baik Kartinem maupun Khaterine punya dua tantangan besar, Pertama, tantangan internal dalam lingkungan keluarga yang musti tetep jadi sosok feminin yang lembut, penuh perhatian dan kasih sayang, serta sarat sentuhan cinta yang tulus buat suami dan anak-anak. Kedua, tantangan eksternal di luar “pagar” rumahtangga seiring tuntutan zaman yang makin kebuka buat masuknya nilai-nilai global yang menuntut dirinya untuk bersikap maskulin.

Kartinem maupun Khaterine adalah dua sosok 'ibu' yang teramat agung di mata anak-anaknya, seharusnya !. Ibu adalah pelepas anak panah masa depan generasi penerusnya. Di tangan ibulah kepribadian anak bergantung. Tapi apa jadinya pendidikan, perhatian, dan kasih sayang yang tulus buat anaknya, ketika Khaterine teramat sibuk dengan karier dan obsesinya ? Makanya gak terlalu heran, ketika temen arisan di kantor dateng ke rumah Khaterine dan menyapa anaknya yang baru kelas 1 SD favorit. "halo sayang... udah makan ?" tanya Rica temen sekantornya. Maka dengan PeDe-nya anak kecil tadi ngejawab "inyong ya uwis madang lah, angger urung ya wetenge kencot" logat Banyumasannya sangat medok, yang artinya: aku ya udah makanlah, kalo belum ya perutnya laper. Rica sempet kaget juga, gimana bisa ? Khaterine yang blasteran Sunda-Perancis, sementara suaminya orang Padang, tapi bahasanya anaknya koq Banyumasan ? Ternyata pembantunya orang Ajibarang, Banyumas.

Khaterine udah ngelupain tugas utama wanita sebagai seorang ibu adalah mengasuh, membimbing dan ngarahin masa depan anaknya. Anak bagi seorang ibu adalah aset dunia-akhirat. Gimana mungkin aset yang begitu berharga dilewatin begitu saja kepengasuhannya ? Khaterine asyik berkarier dengan alasan demi anak juga, tapi telah melupakan tanggungjawab dan kewajiban utamanya sebagai seorang ibu. Peran ibu gak bisa digantikan oleh siapapun, meski dengan alasan demi feminisme. Dalam skala yang lebih gede, anak adalah aset bangsa. Apa jadinya negara kita jika generasi penerusnya adalah generasi-generasi yang cengeng, gak berani ngadepin tantangan dan intimidasi negara asing, bisanya cuman ngutang dan ngutang lagi ? Bisa jadi karena salah asuhan ketika masa kecilnya, kurang curahan kasih sayang dari ibunya, sehingga kepribadianya rapuh atau bahkan hancur ! Sehingga jabatan boleh tinggi, posisi boleh strategis, tapi mentalnya rendah. Segitu pentingnya peran ibu sebagai peletak pondasi kepribadian dan sikap mental buat anak-anaknya, yang dampaknya bisa sangat panjang, bahkan mungkin seumur hidupnya.

Labels:

3 Comments:

Blogger astrid savitri said...

Dan inilah, problem wanita karir: tuntutan berperan ganda.

Dalam perkawinannya pasti ada satu titik dimana dia harus memilih antara menjadi ibu atau berkarir. Mungkin di negara kita, seorang perempuan bisa dgn bangga mengatakan dia mampu menjalani kedua peran itu – sebab dia punya pembantu yg menjaga anaknya dgn upah rendah. Kemiskinan memang menguntungkan kita!

3:57 PM  
Anonymous catatanpendidikan said...

Mohon maaf kepada admin, melaui ini kami mohon izin utk menampilkan postingan ini di weblog kami. Insya allah dengan tetap mencantumkan link web ini. sebelumnya kami ucapkan terima kasih. Selamat Berjuang.

admin@catatanpendidikan.co.cc

8:01 AM  
Anonymous catatanpendidikan said...

Ni Pak, ada pertanyaan atau pernyataan yaaa? naggapi tulisan Sampean ini di blog kami. Kami kopas-kan saja di sini biar tambah rame. Barang kali Sampean bisa sedikit memberi jawaban atau komentar balik. ni Pak yaaa...

diah
Saya jadi penasaran nih dengan cerita tentang anak-anak Kartinem. Kalo Katherine bisa gaji pembantu yang orang Ajibarang itu, gimana dengan Kartinem? Siapa yang bertanggungjawab mengurus anak-anaknya?

Bukankah anak-anak Kartinem dan anak-anak Katherine sama-sama merupakan aset bangsa?

9:32 AM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home