Saturday, June 06, 2009

antara Hanung, Ahmad Dahlan dan Peter Drucker


beberapa waktu lalu, dalam pleno tertutup Pengurus Pusat Muhammadiyah aku presentasi terkait hajatan besar yang bakalan digelar 2010. Yaitu Muktamar 1 Abad Muhammadiyah. Sehabis aku presentsi giliran Hanung Bramantyo, sutradara muda yang lagi naik daun, alumni Muhi (SMA Muhammadiyah 1) Yogyakarta. Hanung presentasi rencana pembuatan film yang mengangkat kisah historis KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Di hadapan bapak-bapak pimpinan Muhammadiyah, Hanung merasa betemu lagi dengan "bapak-bapak saya". Film yang merupakan "panggilan jiwa" Hanung yang tumbuh dan besar di lingkungan Muhammadiyin ini akan digarap dengan all out. "Bukannya saya tidak percaya kepada orang lain, tetapi film ini sungguh memiliki arti buat saya dan juga Muhammadiyah. Jadi, saya ingin orang yang menggarapnya adalah orang yang memang benar-benar mengetahui apa dan siapa sosok Ahmad Dahlan" (Republika, Jumat 29 Mei 2009).

Hanung begitu 'fasyih' mempresentasikan 'proyek' tersebut, lengkap dengan dokumentasi Masjid Kauman, Malioboro, Alun-alun dan sebagainya dalam visual foto-foto kuno. Hingga akhirnya sampai pada angka-angka, biaya yang dibutuhkan. Dan jumlahnya belasan 'M'. Dengan asumsi warga Muhammadiyah 30% dari penduduk Indonesia, maka 'dana awal' tersebut bukan menjadi masalah, karena dalam kurun satu tahun uang tersebut bisa bekembang dua kali lipat. Hanung mencontohkan keberhasilannya 'menjual' Ayat-ayat Cinta. Demikian juga keberhasilan Laskar Pelangi yang begitu menghebohkan, meski bukan besutan Hanung. Karena waktu itu kebetulan aku ikut mendengarkan presentasinya, maka aku katakan kalau Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi adalah dua film yang diangkat dari novel yang cukup menghebohkan juga. Bagaimana dengan novel KH. Ahmad dahlan ? Nggak ada!. Jawaban Hanung mencerminkan sebagai sosok yang profesional tidak hanya dalam masalah mengatur akting para pemerannya, tapi juga tahu betul bisnis perfilman dan peredarannya. Sebelum film tersebut dilaunching pada saat Muktamar 1 abad Muhammadiyah yang bakal dilaksanakan di Yogyakarta Juli 2010, maka isu-isu Ahmad Dahlan akan terus dihembus-hembuskan. Lagu-lagu wajib Muhammadiyah seperti "Sang Timur" dinyanyikan oleh penyanyi papan atas, bahkan dibikin ringtone. Ahmad Dahlan dihidupkan kembali dalam benak kita, dalam rangka untuk siap menjemput kehadiran film tersebut.
Peter F Drucker, bapak manajemen modern dari Austria dalam sebuah statemennya mengatakan "Sales is antitesis of marketing". Koq bisa? penjualan berlawanan dengan pemasaran? Itulah trend pemasaran yang sedang terjadi sekarang. Pemasaran bukan semata-mata ditujukan untuk penjualan. Pemasaran lebih bertujuan untuk mengkondisikan kita agar siap mengonsumsi produk/jasa tersebut. Maka ketika keluar rumah untuk 'siap' membeli shampo anti ketombe, sebenarnya karena kita sudah di'racuni' oleh pemikiran bahwa ketombe bikin gak PeDe, ketombe bikin malu, ketombe bikin hidup kita gak nyaman... Dan siapa yang menciptakan ketakutan tersebut sehingga kita merasa perlu dan mendesak untuk mengonsumsi sahmpo anti ketombe? Itulah aktifitas pemasaran yang dilakukan oleh produsen shampo. Maka ketika ketakutan sudah sedemikian membuncah, menggelisahkan, merisaukan... dengan munculnya produk 'penyelamat' muka kita, langsung disambut dengan 'ikhlas' untuk mengonsumsinya. Masih banyak contoh lain yang mungkin kita sering mengalaminya. Dalam istilah lain yang lebih 'ilmiah' adalah mengedukasi pasar dulu, sebelum produk diluncurkan. Mungkin kita jarang menyadari hal tersebut, tapi inilah faktanya.
Di penghujung tulisan ini, bukan berarti gak boleh membeli shampo anti ketombe, apalagi melarang nonton film Ahmad Dahlan, tapi aku mencoba membangun kesadaran minimal dari diriku sendiri, agar tidak terlalu 'penurut' pada era kapitalis (atau neolib) sehingga menumpulkan sensifitas naluri kita. Uang memang maha bijaksana, dan uang adalah saksi yang paling jujur ketika kita berbenturan dengan yang namanya keikhlasan.

Labels:


Selanjutnya...

Tuesday, April 14, 2009

amateur photographer


ternyata untuk menjadi fotografer gampang2 susyah... Apalagi foto model gak harus muda dan cantik...



Labels:


Selanjutnya...

Friday, August 22, 2008

art after artday


Dalam perjalanan menempuh jenjang studi S2, mahasiswa Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia angkatan 2006 merasa bahwa tumbuh kembang dan alur berkesenian masing-masing individu yang tergabung di dalam angkatan tersebut perlu mendapatkan ‘orgasme’ estetis dan pencapaian total ending yang menggugah selera berkesenian dunia luar ISI. Karya-karya puncak yang dihasilkan harus mampu memberi sumbangsih yang nyata dalam ranah berkesenian secara global.

Secara akademik pencapaian karya puncak tersebut terwadahi dalam Ujian Tugas Akhir, namun itu hanya terbatas pada penilaian dalam ranah akademik yang ditentukan dalam nilai dan abjad. Ekses yang diharapkan muncul di masyarakat masih tipis dan terbatas. Penilaian sebetulnya bukan hanya diukur dari sekedar nilai A, B atau C, tapi lebih kepada tanggapan masyarakat dalam melihat, mencermati, menikmati dan mengapresiasi karya-karya tersebut dalam ruang yang lebih luas bahkan dalam tinjauan yang lebih membuka berbagai prespektif yang mengundang wacana baru di masyarakat pecinta seni. Sehingga, nilai berkesenian para mahasiswa PPSJ ISI angkatan 2006 ini setidak-tidaknya mampu memberi arti dan sedikit goncangan dalam ranah budaya seni yang maha luas ini.
Untuk itulah kami menyelenggarakan sebuah event yang kami beri tajuk Art After Artday, kami berkeyakinan bahwa event ini akan mampu merangkum totalitas ‘orgasme’ estetis mahasiswa tersebut di samping mampu membuka kesadaran masyarakat dan para pelaku serta pecinta seni untuk lebih mengenal karya nyata, kehebatan, totalitas berkesenian, keberadaan dan sumbangsih para seniman dan peneliti seni melalui mahasiswa PPSJ ISI Yogyakarta angkatan 2006. Disamping itu, event Art After Artday menjadi semacam titik tolak yang memotivasi setiap individu yang berada dalam lingkup mahasiswa angkatan 2006 PPSJ ISI Yogyakarta untuk tetap mempertahankan kegairahan berkeseniannya secara terus menerus dan berkelanjutan sebagai sebuah dogma dan nafas hidup yang tiada henti. Sehingga ranah dunia seni nusantara semakin berwarna, variatif dan lebih inovatif dengan karya-karya yang dihasilkannya.

Labels:


Selanjutnya...

Thursday, July 17, 2008

logo


up's! Telapak tangan kanan mendarat di jidat. Meski jidatnya gak salah apapun. Seorang temen yang nulis di SB bilang logonya ditunggu buat link di t4nya. Aku baru nyadar, kalo blog-ku gak punya logo... emang blog musti ada logonya ? Seberapa penting seh sebuah logo ? Ngapain juga Bank Mandiri 'cuman' nyederhananin bentuk logo berikut pita-nya aja konon ngabisin 4 miliar rupiah? belon lagi BNI, Pertamina, Global TV, de el el? Ini kerjaan 'ringan' yang duitnya 'gede', kita cuman bisa bilang... "kalo cuman bikin gitu seh aku juga bisa!" Dari pengalaman beberapa kali bikin logo, baik yang kecil-kecilan ampe yang rada gede-gedean, dari yang semi sosial ampe yang komersial, ternyata logo gak sekedar gambar, simbol doang......

Karena didalemnya sarat makna, fengsui, filosofi perusahaan de es be. Salah satu fungsi logo, ya jelas buat pembeda-lah dengan institusi lain. Bisa berupa gambar (logo gram) misalnya Nike, Shell... atau berupa tulisan (logo type) aja, contohnya NOKIA, SONY... atau yang paling banyak adalah gabungan dari keduanya kaya' Garuda Indonesia, Adidas... Bisa juga tulisan yang udah di stilisasi seperti CocaCola misalnya, logo type yang sekaligus jadi logo gram. Ada juga yang mbedain 'logo' sama 'lambang'. Kalo logo biasanya lebih simpel, umurnya gak sampe pikun (tergantung kondisi perusahaan). Nah, kalo lambang, lebih rumit dan sakral, umurnya relatif lebih panjang artinya buat memodif-nya gak gampang. Contohnya lambang negara Garuda Pancasila, rumit, sakral, berani merubah... bisa dituduh subversif.

Idealnya logo gak cuman jadi pembeda aja, tapi bisa jadi sarana informasi, image buliding yang positif di hadapan publik. Di mata om David E Charter, pakar corporate identity dari Amrik, logo yang baik mampu jadi mencerminkan jenis usaha pemilik logo te es be. Bisa berupa nama dengan asosiasinya, bentuk dengan kesan yang ditimbulkannya, de es be. Cuman dalam penerapannya, ada juga yeng lebih mengedepankan idealisme dan visi daripada representasi bidang usahanya. Sehingga kadang-kadang logonya gak nyambung dengan jenis usahanya, dan mereka bisa sukses juga koq!. Contohnya, Gudang Garam.. malah memroduksi rokok dan bukan garam, Jarum.. bukan pabrik jarum jahit, Bentoel... bukan agrobisnis umbi-umbian.

Visualisasi logo yang baik kata om David E Charter :
Original & Destinctive > punya nilai kekhasan, keunikan dan daya beda yang jelas.
Legible > tingkat kejelasan & keterbacaannya tinggi meski diaplikasikan di kartunama sampai body pesawat sekalipun.
Simple > sederhana, mudah ditangkap & dimengerti dalm waktu relatif singkat
Memorable > mudah diingat, meski dalam waktu yang cukup lama
Easily Assosiated with the Company > mudah diasosiasikan dengan jenis usahanya
Easily Adaptable for All Graphic Media > mudah diaplikasikan, baik warna, bentuk, konfigurasi de el el, dari sablon satu warna sampe cetak fullcolour.
Trus... apa kaitannya sama blog? Nyadar atau gak, kita bisa menganali inisial 'B' berwarna putih di atas background kotak rounded merah sebagai logo Blogger.com, kita juga bisa mengenali huruf 'W' putih di atas lingkaran biru sebagai logo Wordpress.com. Nah, gimana dengan blog kita... ditengah paritasnya lautan blogger dengan template yang ampir sama? Sapa tau dengan logo blog (jangan dibaca "loe goblog!") yang menarik bisa menjadi pembeda (diverensiasi) sama temen-temen blogger lain. Selain menambah semarak dinua blogger kita.

Terakhir... apa filosofi logo cc-line? apa bidang usahanya? citra baiknya mana?... tulis aja di form comment, minimal ngisi SB.

Labels:


Selanjutnya...

Monday, June 02, 2008

bergerilya dengan instalasi



guerilla Marketing dan Guerilla Media. Dua mahluk ini dalam beberapa tahun belakangan ini sering sekali disebut sebut oleh kalangan marketer dunia sebagai senjata yang ampuh untuk melawan competitor bisnis yang bermodal besar. Namun dalam pembahasan kali ini, saya akan fokus membicarakan Guerilla Media.

Guerilla atau gerilya sebenarnya merupakan jenis strategi dalam pertempuran seperti yang pernah dilakukan Indonesia ketika berperang melawan Belanda atau Vietnam melawan Amerika. Dengan amunisi yang kalah jauh, pasukan menyusup perlahan ke daerah musuh. Sedikit demi sedikit menaklukan area yang tak dikuasai hingga akhirnya memasuki area terbesar dan berhasil membuat musuh kalang kabut. Kunci kemenangan dengan menggunakan metode gerilya ini adalah pemahaman lokasi, strategy dan konsistensi.
Guerilla Media pada dasarnya menggunakan metode yang sama. Jika selama ini brand kelas kakap menghujani konsumen dengan placement jor-jor an di medium TV, Radio, dan Print Ad, maka Guerilla Media menawarkan solusi komunikasi yang menggunakan medium selain medium diatas yang notabene biaya medianya jauh lebih murah. Bentuk Guerilla Media bisa berupa instalasi kreatif ambience media, viral, email, pesan melalui HP, happening art, souvenir dll. Intinya, menarik perhatian setinggi mungkin tapi menekan biaya sebesar mungkin.
Secara medium, Guerrilla Media juga mempunyai peluang untuk menarik perhatian konsumen lebih besar daripada media tradisional seperti TV, Print dan Radio karena konsumen sudah terbiasa melihat iklan-iklan TV ketika menonton TV, melihat print ad ketika membaca media cetak, atau mendengar iklan radio ketika sedang mendengar radio. Karena sudah terbiasa, yang muncul bisa jadi justru penolakan terhadap iklan.
Tetapi ketika melihat pesan iklan guerrilla media dalam bentuk yang unik dan medium yang tak terduga seperti iklan-iklan di wastafel toilet, pesan iklan pada buah-buahan di supermarket atau instalasi-instalasi kreatif di tempat umum dll, konsumen tanpa sadar terpengaruhi oleh iklan dan tidak memiliki kesempatan untuk merejectnya seperti halnya yang dilakukan di medium tradisional. Seperti halnya sebuah produk vacum cleaner yang memasang selembar kain berwarna mencolok di sisi gedung bertingkat. Sementara sebagian kain tersebut ditarik ke dalam gedung, sehingga seolah-olah begitu kuatnya sedotan vacum cleaner tadi.

Pertanyaan yang sering muncul selanjutnya adalah seberapa efektifkah Guerilla Media ini? Jawabannya, semuanya tergantung strategy, konsep dan se’nendang’ apa ide kreatifnya serta konsistensi pelaksanaan. Strategynya bagus, ide kreatifnya ngga nendang…ya tidak akan dijadikan bahan pembicaraan. Strategy bagus, ide kreatifnya cemerlang, tapi pelaksanaannya tidak rutin, hasilnya juga tidak akan maksimal.
Intinya, Guerilla Media memerlukan effort yang lebih dari sisi pemikiran dan tenaga, namun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan konsisten, hasilnya bisa memuaskan. Satu hal lagi, sifat seni yang universal bisa dimanfaatkan untuk kepentingan apapun. Dewasa ini, seni bukanlah mutlak hanya untuk seni. Tapi bisa juga dimanfaatkan untuk kepentingan perang bisnis. Baik perang secara frontal maupun dengan bergerilya.

Labels:


Selanjutnya...

Tuesday, January 29, 2008

rokok & kematian

ini tugas-tugas kuliahku Penciptaan Desain Komunikasi Visual 3. Meski cuman dapet nilai A - (score 92) tapi lumayanlah, Alhamdulillah. Bisa jadi kaya' kata dosen Desain Komunikasi Visual-ku, VISualisasi karya-karyaku terlalu mengedepankan aspek KOMunikasinya, sehingga unsur DESainnya menjadi minim. Aku ya cuman manggut2... (namanya juga mahasiswa). Kata temenku yang laen, karya2ku terlalu 'parktisi' banget !. . Apapun itu yg jelas karya2 ini dah dipamerin kemaren tgl 21 - 23 Januari di kampusku. Sekarang lagi siap2 buat Tugas Akhir dengan tema & kasus yang berbeda, karena kata dosenku (Mata Kuliah Seminar 2) tema anti rokok dah klasik ! gak populer ! Meski hampir di setiap Advertising Award, baik tingkat Nasional maupun Asia Pasific bahkan Internasional selalu ada entri tentang tema Anti Rokok ini. Aku ya, cuman manggut2... (namanya juga mahasiswa). Selamat menikmati ! dan silahkan diapresiasi... syukur2 ngasih komentar.

Poster #1 "Berkabung"


Poster #2 "Lambat tapi Pasti"


Poster #3 "Kabut Nikotin"


Poster #4 "Berita Duka"


Poster #5 "Ironis"


Poster #6 "Jalur Maut"


New Media "Asbak Nisan"

Labels:


Selanjutnya...

Monday, November 26, 2007

efektifkah ??

"Sekitar 100 juta orang telah meninggal di abad ke-20. Kalau tren ini terus berjalan maka pada abad ke-21 diperkirakan satu miliar orang yang meninggal akibat rokok." Sumbernya dari sini. Nah.. help me please.... ini adalah beberapa media yang aku bikin, untuk tugas kuliah Disain Komunikasi Visual. Cuman ... ketika Dosen nanya, efektifkah pendekatan isu 'kematian' diangkat buat nakut2in perokok biar kapok ??? Aku belon bisa njawab ! Makanya... tolong dong, kasih komentar... kira2 efektif gak media yang aku bikin ini, dengan bodycopy "MATIKAN ROKOKMU SEBELUM ROKOK MEMATIKANMU" ditulis dengan gaya penulisan 'public warning' kaya' di poster atau bungkus rokok.


Gbr. 1. Tiang listrik di depan kuburan, dibungkus sticker jadi mirip puntung rokok.

Gbr. 2. Tiang listrik tadi diliat dari dekat.

Gbr. 3. Poster indoor, sejumlah puntung yang mirip kuburan.

Gbr. 4. Poster indoor, gambar perokok dengan asap membentuk 'hallo' di atas kepala.

Gbr. 5. Asbak berbentuk 'batu nisan'.

Aku belon tau buat ngukur efektifitas media ini... jadi, siapapun yang ngunjungin blog ini... tolong kasih komentar dunk ! (koq maksa... !!!!)

Thx b-4

Labels:


Selanjutnya...

Wednesday, May 23, 2007

i'm an artist !



seni bukan buat dimengerti, tapi buat dirasain ! hhmmmh.... statemen yang sangat ekstrim dari temen kuliah di jurusan fine art. Dengan kata laen seni lebih banyakan berhubungan dengan hati dibanding dengan otak. Karena seni banyakan bicara dalam bahasa hati (baca: rasa) sehingga idealnya bersifat universal, setiap manusia khan dikasih 'rasa'. Everybody is an artist, artinya ketika kita masuk mall atau butik, milih sepatu, t-shirt, kerudung, syal, atau sekedar nyari iket rambut, kaos kaki, bahkan dengerin musik ! pasti ada deh pertimbangan2 estetis. Kenapa koq milih warna pink, atau yang belang2, koq gak yang warna abu2. Nah, sampe sini berati tiap orang tuh sebenernya seniman ! Gimana nggak ?? orang seniman juga kerja dengan elemen2 tadi. Makanya, gak usah deh pusing2 mikirin lukisan abstrak, atau gambar orang koq kulitnya ijo... patung torso koq gak pake kepala ?? tapi apa yang kita rasain ketika denger atau ngeliat karya seni tadi !

Tapi kenapa waktu SD dulu... indra perasa koq lidah ya ??? padahal rasa itu khan gak cuman asin, manis, pedes, asem, dll. Bukannya sedih, gembira, seneng, bahkan cinta juga rasa ?? tapi koq gak bisa dicicip pake lidah ya ??? Bahasa hati emang kadang beda, sama bahasa otak, bahasa hati lebih peka karena yang disentuh adalah sisi yang sensitif yaitu rasa. Jadi inget ucapan Ustadz di pengajian tentang hadits yang udah populer... "Ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuliah bahwa segumpal daging itu adalah hati." Nah loh !! emang seh masih ada yg mendebatnya, apa iya segumpal daging yg dimaksud dalam hadits tadi itu hati... khan bahasa Arabnya 'qolbun'. Apapun itu... pertanyaannya, trus apa hubungannya seniman sama hadits tadi ???

Ada juga yang bilang, seniman itu orang yang dikasih kepekaan yg 'lebih' dibanding orang laen. Sesuatu yg bagi orang laen mungkin biasa aja, bagi seniman bisa jadi sesuatu yg luar biasa. Cuman balik lagi sama hadits tadi, kalo emang bener yang dimaksud adalah hati, maka seorang seniman mustinya lebih berhati2 dalam bikin karyanya. Artis (baca: seniman) itu khan bukan cuman pemain sinetron perselingkuhan, atau pemusik yg udah nelorin album bejibun. Pelukis, pematung, teaterawan, kriyawan, pengrawit, perancang mode... atau bahkan kita2 semua ini juga sebenernya seniman atau artis. Karena kita punya hati dan perasaan.

Masalahnya, gimana caranya biar hati ini 'baik' biar baik pula seluruh tubuh kita. Syukur2 bisa bikin baik tetangga sebelah, se-RT bahkan se-Indonesia. Karena kemuliaan seseorang tuh diliat dari seberapa besar kemanfaatannya bagi orang laen. Walaupun kita pinter, kaya, cakep... tapi kalo belon bisa ngasih manfaat bagi orang laen, bisa jadi kita bukan termasuk orang2 yg dimuliakan-Nya atau bahkan gak ada apa2nya.

Ternyata buat ber-baik hati, atau berdamai dengan diri sendiri susyahnya minta ampyuunn !!. Nah, karena setiap kita adalah artis/seniman, dan setiap kita juga punya hati/rasa... maka wajib hukumnya buat hati-hati, terhadap hati.

Image: "YZ & ME" my oil pianting on canvas 40X60 Cm.

Labels:


Selanjutnya...

Saturday, November 11, 2006

kolor maning -kolor maning


fenomena terbaru... telah lahir (atau bebas ?) selebritis baru dari daerah ’ngapak maning’ bernama Sumanto. Sebentar lagi mungkin jadi bintang iklan, menyusul kesuksesan mbah Marijan (roso !.... roso !...). Seorang pengamat periklananan tidak menampik kemungkinan tersebut. Tapi direkomendasikan bukan untuk produk makanan.... karena hampir yakin produk tersebut gak bakalan laku di pasar. Mungkin produk jasa semacam Asuransi Jiwa.... “Lindungi keluarga Anda dari ancaman kanibalisme Sumanto !!” dengan visualisasi Sumanto menyeringai ‘sopan’.

Tapi tulisan di bawah ini gak bakal mengulas “New Selebrities” tersebut... apalagi kolornya Sumanto.

Masih ngomongin warna tapi dari sisi maknanya (color meaning).

Merah adalah warna api, darah. Maka biasanya dihubungkan dengan energi, peperangan, bahaya, kekuatan, juga cinta. Warna yang sangat membangkitkan emosi, meningkatkan metabolisme, menaikkan tekanan darah dan memiliki jarak penglihatan yang sangat tinggi. Sehingga sering digunakan untuk tanda Stop, lampu belakang, juga peralatan pemadam kebakaran. Dalam ilmu lambang, merah bisa bermakna keberanian. Sehingga sering digunakan dalam bendera negara. Karena sifatnya yang cukup menonjol ini, dalam disain biasanya digunakan untuk merangsang orang dalam mengambil keputusan. Misalnya tulisan ”Beli Sekarang” atau ”Klik di sini” pada tombol/botton. Dalam periklanan, merah sering disimbolkan sebagai erotisme, bibir merah. Warna ini juga biasanya dihubungkan dengan energi, sehingga disarankan menggunakan warna merah untuk iklan produk minuman energi, game, sport dan aktivitas fisik yang tinggi.

Kuning adalah warna sinar matahari, sehingga sering dihubungkan dengan kegembiraan, kebahagiaan, panas dan juga energi. Kuning juga bisa bermakna peringatan, apalagi jika dikombinasikan dengan warna hitam. Dalam ilmu lambang, kuning di maknai kesetiaan dan penghormatan.

Hijau adalah warna Alam, menandakan adanya pertumbuhan, keselarasan, kesegaran dan kesuburan, juga mengesankan keselamatan. Sehinga sering digunakan pada petunjuk/nama jalan, sehingga disarankan untuk iklan produk obat2an atau medis. Kadang-kadang hijau juga bermakna ’belum berpengalaman’ sehingga oarang yang masih baru, biasa disebit masih ’hijau’.

Biru adalah warna langit dan laut. Sehingga sering dihubungkan dengan stabilitas dan kedalaman. Menandakan kepercayaan, kesetiaan, kebijksanaan, kebenaran, juga kecerdasan dan teknologi. Memberi efek tenang, damai dan memperlambat metabolisme. Dalam ilmu lambang bisa berarti ketulusan dan kealiman. Disarankan menggunakan warna biru untuk promosi produk dan jasa yang berhubungan dengan kebersihan (air minum, sabun, cairan pembersih), langit, laut dan udara (penerbangan, bandara, pelayaran, pendingin ruangan), juga untuk produk2 hi-tech. Hindari penggunaan warna ini untuk promosi produk masakan/makanan, karena biru bisa menurunkan selera makan. Jika dikombinasikan dengan dengan merah dan kuning, mampu menciptakan kesan high-impact. Sehingga sering digunakan untuk kostum super hero.

Lepas dari kebenaran makna di atas, setiap manusia sebenarnya punya potensi untuk memaknai warna tersebut. Ketika shopping, milih baju, T-Shirt, sepatu, tas, dll... pasti peran warna ini memberi kontribusi yang cukup besar dalam memutuskan untuk membeli. Bahkan pedagang buah di kios pinggir jalan, mereka menyusun buah berdasarkan warna, ada berjejer piramid yang tersusun dari hijaunya mangga, merahnya apel, oranyenya jeruk... dll. Mereka juga punya tujuan, agar orang tertarik... kemudian mampir dan membelinya.

Begitu kuatnya peran warna dalam ’mewarnai’ kehidupan kita. Ketika menjelang era reformasi, sebuah bangunan kokoh bisa dirobohkan warga.... gara2 bercat warna kuning. Di Amerika orang benar bisa jadi bersalah hanya karena kulitnya berwarna hitam. Padahal dihadapan-Nya kelak bukan warna kulit, rambut, gigi, mata apalagi baju yang membedakan status kita, tapi seberapa besar ketaqwaannya.

Tidak akan masuk sorga seseorang hanya karena berkulit putih mulus dan bermata biru, dan tidak akan masuk neraka seseorang hanya karena berkulit hitam dan berambut keriting. Karena tidak akan dimintai pertanggungjawabannya, untuk hal2 yang kita gak bisa milih. Tapi akan ditanyakan-Nya kenapa kita lebih suka memilih yang haram, walaupun sekecil biji sawi. Jangan terlalu meremehkan dosa kecil. Karena lebih banyak manusia mati karena gigitan nyamuk, dibanding karena digigit harimau.

Labels:


Selanjutnya...

Wednesday, August 16, 2006

kelamin warna



gak salah tuh judul… bukannya kebalik, seharusnya ‘warna kelamin’ ? Yang ginian sih bukan cuman menjurus ke SARA…. bahkan SARU bin VICTOR (Viciran Cotor). Kenapa sih kita kalo denger kata ‘kelamin’ terus pikirannya ngeres. Padahal setiap kali kita ketemu dengan yang namanya biodata, pasti deh ada ‘Jenis Kelamin’. Dan kitapun mengisinya bukan dengan menyebutkan ‘benda’nya, tapi esensinya.

Ok, deh. Kembali ke judul tadi… bener gak sih warna punya kelamin ?? Sebenarnya sadar atau tidak, kita terlalu sering kepergok dengan yang namanya kelamin warna ini. Gak percaya ?? Baiklah !! Pernah perhatiin gak kenapa warna kemasan/packaging produk-produk untuk konsumsi wanita cenderung menggunakan warna-warna pastel ? (biru muda, merah muda, hijau muda, dll). Kenapa cowok, bahkan bayi laki-laki jarang menggunakan popok warna pink ? Kenapa kemasan minyak rambut/deodorant buat cowok warnanya cenderung hitam, biru, atau merah menyala ?? Dari jawaban pertanyaan-pertanyaan tsb, barangkali bikin kita percaya… bahwa warna ternyata juga punya kelamin !!

Bahkan gak cuman punya kelamin, warna juga punya hukum…. Untuk mencapai colour balance, Om Newton pernah bikin percobaan. Kesimpulannya : Untuk keluasan warna kuning 3 (tiga) bagian, keluasan warna merah 5 (lima) bagian, dan keluasan warna biru 8 (delapan) bagian, baru bisa seimbang. Ada lagi “hukum keluasan” (Law of Area): “Semakin luas suatu area sebaiknya diisi dengan warna-warna yang semakin tenang, dan semakin sempit suatu area sebaiknya diisi dengan warna-warna yang semakin kuat”. (katanya……..)

Warna juga memiliki keberanian, semangat, heroic….. tapi juga bisa lembut, suci. Memasuki bulan Agustus… kita diakrabkan dengan dua warna tsb. Merah – Putih. Warna legendaris sejak jaman Gadjah Mada. Merah yang berarti ‘berani’ dan Putih yang ‘suci’. Namun seharusnya kita malu pada para pejoeang yang pakar ‘nirmana/desain elemanter’ yang telah menyematkan makna luhur pada kedua warna tersebut. Karena kenyataannya, negeri ini sudah tidak lagi memiliki keberanian ‘merah’ dari tekanan dan utang luar negeri. Orang-orang ‘terhormat’ tak lagi memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan, keberanian untuk meminta ma’af, dll. Jangan dulu bicara tentang kesucian ‘putih’. Karena sudah belepotan noda, bahkan darah di sana-sini. Kesucian hanya bisa didekap, jika dilandasi keikhlasan dan kejujuran. Dua kata yang akrab di bibir namun.... asing di hati !!.

Aku juga gak punya ‘keberanian’ untuk merubah merah menjadi pink yang genit feminin..... atau putih menjadi putih tua (emang ada ?) atau kelabu. Karena bukan warnanya yang salah, juga bukan kesalahan Gadjah Mada dan para pejoeang tempo doeloe. Tapi kita yang terlalu silau dengan gemerlap dunia, sehingga hati menjadi rabun dan buta warna. Tak lagi mampu membedakan, mana yang benar dan mana yang salah. 17 Agustus dah lewat 61 kali di depan idung… tapi gak pernah kecium aroma pemberani yang berhati suci. Merdeka !!! (merdeka :-??).

Labels:


Selanjutnya...